Umroh with Baby

Bulan April tahun 2014 yang lalu, kami sekeluarga berangkat umroh. Alhamdulillah, ibadah sunah sudah ditunaikan. Salah satu dari keajaiban dalam hidup adalah dapat melihat kabah untuk pertama kalinya. Perasaannya haru, airmata tak terbendung, dan sejenak kaku hanya memandang kiblat umat muslim.

Saya akan berbagi tips dan cerita membawa baby saat umroh. Anak kami, Afika usianya saat itu 9 bulan. Suami bertekad untuk mengajak berangkat umroh, bersama kedua orangtua dan mertua. Sebagai emak-emak, tentunya ada rasa kekhawatiran membawa baby yang masih ASI pergi jauh. Bagaimana makannya, rewel atau tidak, repot ngga bawa thawaf dan sai, dan lain-lain. Tapi Alhamdulillah suami bertekad bulat dan meyakinkan saya untuk membawa Afika. Daripada ditinggal, harus dititipkan ke siapa, harus menyiapkan stock ASIP. Dan insya Allah saya pun memantapkan hati.

Tentunya persiapan awal adalah menghubungi jasa travel, penentuan jadwal plus pesawatnya. Fix ketika itu kita berangkat tanggal 10 April 2014. Saya & suami sudah mempunyai paspor. Sehingga Afika pun harus dibuatkan. Bawa anak ke kantor imigrasi dan foto langsung. Lucunya baby punya paspor.. 😀 Oiya, untuk anak di bawah 1 tahun tidak perlu suntik meningitis ya.. hanya orangtua saja.

Persiapan

Lalu urusan domestik, tentu urusan saya. Apa saja yang harus dibawa, terutama untuk baby?

  1. Peralatan makan

Daripada nanti di sana kita susah mikirin piring, dll. Lebih aman bawa dari rumah. Standar saja bawa piring, sendok, gelas, termos, botol minum, slow cooker (untuk bikin bubur). Khusus baby yang masih MPASI perlu dipikirkan juga bahan makanannya. Saya termasuk yang pusing, tadinya mau membawa sayuran dari rumah, tapi kata suami di sana ada supermarket dan bisa beli. Akhirnya saya hanya membawa beras untuk 7 hari. Lalu untuk jaga-jaga pada saat dalam perjalanan, saya membawa bubur instan. Saya masih fleksibel, tidak fanatik MPASI. Hehe.. yang terpenting kebutuhan makan anak terpenuhi.

Oiya, saya menggunakan maskapai Garuda. Sehingga pihak maskapai memberi puree untuk bayi, namun rasanya asam jadi Afika tidak terlalu suka. Alhasil saya menyeduh bubur instan. Nah kan ya bermanfaat juga.. 😀

Tips aja ya, bawa selalu termos & diisi di hotel sebelum berangkat, karena suatu waktu pas jam makan, bisa menyeduh bubur. Contohnya ketika perjalanan di bis.

Oiya, cerita tentang makanannya. Alhamdulillah pihak travel menyediakan makanan Indonesia yang ramah perut banget, hehe.. Ngga ada masalah dengan pencernaan. Khusus untuk Afika, saat umroh dia lebih memilih makan nasi daripada bubur yang sudah dibuat dari slow cooker. Huaa.. jadi akselerasi langsung nasi. Sempet GTM, mungkin karena dia lelah, jadi agak susah makan. Tapi, alhamdulillah ngga ada masalah yang berarti. Sehat dan mau makan itu yang terpenting.

  1. Pakaian

Khusus banget pakaian afika 1 koper loh.. haha.. emaknya ngga mau pusing kekurangan baju atau nyuci2 jemur2 di hotel. Karena pasti kita disibukkan dengan beribadah, rutenya hanya hotel-masjid saja. Sebenarnya pakaian yang dibawa standar saja, antara lain:

  • Kaos tangan panjang
  • Legging, kaos kaki
  • Jaket
  • Topi/ kerudung untuk perempuan
  • Gendongan (wajib bawa..hihi)
  • Diapers (yaiyalah..)
  • Earmuff, untuk naik pesawat. Tapi ini mah optional aja, karena bayi yang ASI aman insya Allah, take off dan landing tinggal nenen. Hehe,, praktis.
Afika's style. kerudung plus topi..

Afika’s style. kerudung plus topi..

Pastikan di tas bunda selalu bawa baju ganti, diaper baby. Ini mah pasti tau ya.. 😀

  1. Obat-obatan

Sebelum berangkat, seminggu sebelumnya ke dokter anak. Periksakan kondisi anak dan minta resep obat batuk, pilek, demam, untuk berjaga-jaga. Oiya, minta juga surat keterangan dokter, jika ditanya di bandara. Tapi pengalaman saya, tidak ada yang bertanya surat dokter.

  1. Lain-lain

Stroller ini penting. Untuk bawa bayi dari hotel ke masjid. Kalo gendongan tadi dipakai saat thawaf dan sai. Karena saat thawaf tidak boleh bawa stroller, yang ada penyewaan kursi roda. Juga saat sa’i, tidak ada penyewaan stroller. Alhasil, abiy & bunda bergantian gendong. Subhanallah..saat thawaf dan sa’i Afika tidak rewel sama sekali karena saya sambil menyusui. Kebayang kan ya, muterin kabah sambil gendong & menyusui. Setelah thawaf langsung sai. Alhamdulillah bundanya tepar 😀

Payung. Perlu juga loh bawa.. pada saat itu cuaca di Mekkah puanas, payung untuk melindungi bayi atau bisa juga ditutup kerudung. Tapi pas di Madina, cuaca menjadi sejuk kayak di Puncak dan sempat hujan. Jadi tetep payung itu dibutuhkan..

Perjalanan di Pesawat

Ada kejadian lucu saat perjalanan berangkat. Kami dapat kelas bisnis, Alhamdulillah bunda bisa menyusui dengan posisi tidur walau sempit, Afika masih bisa tidur. Tapi.. setelah bunda terlelap, karena Afika sedang senang guling-guling.. Afika jatoh dari kursi pesawat. Dan mba pramugari yang membangunkan bunda. “Bu..anaknya jatoh”. Setengah sadar, bunda bangun mengangkat afika terus lanjut bobo lagi.. hehe..

Tips di pesawat jika membawa baby:

1. Siapkan di tas bunda: mainan, pakaian, diapers, selimut dan cemilan bayi. Untuk makanan saya prefer membawa instan. Di pesawat minta diseduh dengan air panas.

2. Memberi makan di pesawat. Agak susah memang, karena suasananya terbatas. Jadi, mau tidak mau sambil digendong bawa-bawa jalan ke cabin, ngobrol dengan pramugari.

3. Tidur dengan kondisi terbatas tapi tetap nyenyak.

Kalau bisa cari penerbangan yang sore. Jadi anak bisa tidur, walau ada perbedaan waktu bisa mengabkibatkan susah tidur.

Bobo menguasai 1 kursi. Alhamdulillah, mba pramugari membolehkan bunda duduk di kursi kosong yang lain.

Bobo menguasai 1 kursi. Alhamdulillah, mba pramugari membolehkan bunda duduk di kursi kosong yang lain.

Mekkah-Madinah

Saya akan memberi tips agar ibadah kita tetap khusyuk walau membawa bayi, Insya Allah..

Pertama, luruskan niat bahwa umroh untuk ibadah, membawa anak bukan menjadi alasan bagi bunda untuk malas beribadah. Astaghfirullah.. tapi memang ujian di sana berat loh.. Oke, saya kasih tips ya..

  1. Punya partner

Bunda jangan merasa sendiri mengurus anak pada saat umroh. Pastikan ada suami atau orangtua yang menjadi partner agar bisa menjadi 2nd hand, tempat minta bantuan, atau nitip anak. Hehe.. FYI, ternyata banyak loh yang bawa kiddos mulai dari bayi sampai toddler. Jadi tenang aja mom, you are not alone. Dijamin pas waktu sholat wajib, bakal rame koor tangisan anak. 😀

Terutama saat thawaf dan sa’i, jangan terlalu buru-buru dan (saya) karena lumayan gendong anak 7 putaran dan sa’i bolak balik. Jadi bisa bergantian dengan suami atau saat sa’i bisa melipir sebentar untuk selonjoran.

Menunggu bunda sholat, eh..ketemu ikhwan ganteng. hehe,,

Menunggu bunda sholat, eh..ketemu ikhwan ganteng. hehe,,

Ini teteh cantik dari Turki.. walau berbeda bahasa tetap satu Iman.. :)

Ini teteh cantik dari Turki.. walau berbeda bahasa tetap satu Iman.. 🙂

  1. Atur jam pergi ke masjid

Sebaiknya setengah jam sebelum adzan sudah siap2 untuk ke masjid. Dan, ketika bayi sedang tidur bawa aja sambil digendong. Ini pun terjadi dengan Afika. Seringkali tidur jam 11 siang, akhirnya diangkat dan diboyong ke masjid saat sholat dzuhur. Tapi pernah hanya sekali, tidur pas sebelum adzan Isya. Akhirnya bunda sholat di hotel dan disitu saya sedih, karena pingin banget ke masjid. Tapi di luar hujan & Afika terlelap tidur.

Setelah sholat dzuhur

Setelah sholat dzuhur

  1. Simpan anak di dekat kita, ketika sholat

Di masjiil haram dan masjid nabawi ada tempat khusus untuk ibu-ibu yang membawa anak, yaitu di luar tapi masih di dalam masjid. Disekat oleh batas, agar suara bayi mungkin tidak terlalu mengganggu imam dan jamaah. Biarkan anak kita ikut sholat, bisa disimpan di bawah atau digendong ikut sholat. Beberapa kali, Afika diajak bermain oleh toddler bule, ada yang dari Turki, Pakistan, dll. Nah.. tantangannya adalah saat bayi menangis, bunda harus sigap menenangkan. Tips saya, jangan batalkan sholat. Dalam sholat, kita masih dibolehkan bergerak untuk mengambil anak. Gendong, sampai tenang. Pernah kejadian afika nangis, akhirnya saya sholat dalam posisi duduk dan sambil menyusui. Subhanallah ya.. Oiya, bunda harus tetap bawa mukena juga ya, walau udah pakai bergo panjang. Itu tadi,mukena bermanfaat untuk nutupin saat menyusui. Allahu a’lam, tapi semoga ibadah sholat tetap khusyuk dan diterima ya moms..

Alhamdulillah, kalau pas lagi anteng ditinggal sholat.

Alhamdulillah, kalau pas lagi anteng ditinggal sholat.

  1. Bergantian ke Raudah

Sayang banget, kalau umroh tapi ngga ke raudah. Ada haditsnya, Raudah adalah taman surga, disana doa-doa dikabulkan. Saya sangat ingin ke sana, tapi pasti berjejalan penuh. Akhirnya bicara dengan ibu mertua yang sudah duluan kesana, kalau mau lebih lengang waktunya adalah bada isya. Saya memutuskan untuk berangkat pukul 9 malam, Afika sudah tidur. Suami saya sudah ke raudah sehingga mau untuk gantian menjaga Afika. Bismillah saya berangkat. Jujur ada perasaan gelisah, khawatir Afika bangun ingin menyusu. Ternyata memang antriannya panjang dan jamaah dari Indonesia paling terakhir. Dengan perjuangan menunggu dan berdesakan, Alhamdulillah tertunaikan ke raudah. Walaupun Afika sempat bangun, namun sama abiy digendong-gendong dan bisa tidur kembali.

Saya tidak menceritakan itinerary umroh ya, karena bisa tanya ke travel.. hehe.. yang pasti sebelum berangkat bekali dengan niat dan ilmu. Apalagi yang membawa baby, harus mempunyai tekad kuat dan kondisi fisik yang sehat. Saya perhatikan, tidak ada satupun orangtua yang mengeluh membawa anaknya umroh. Allahu a’lam, di sana anak sehat dan tidak rewel. Jadi jangan ragu ya moms, ketika ada panggilan Allah ke baitullah, bismillah berangkat… 😀

Saat thawaf, Afika digendong tertutup jilbab bunda :D

Saat thawaf, Afika digendong tertutup jilbab bunda 😀

Advertisements

KISAH 1: PERTARUHAN IDEALISME

“Aku ngga mau sama yang kerjanya PNS. Uangnya ngga jelas dari mana”, kata seorang teman  yang bekerja di perusahaan swasta.  Sudah usia 30 tahun, tapi dia belum menikah karena terlalu banyak persyaratan. Termasuk salah satu syarat suaminya adalah bukan PNS. Ketika itu aku belum berpikir jauh tentang PNS karena dari keluarga tidak ada yang bekerja sebagai PNS dan juga aku tidak pernah bercita-cita menjadi PNS.

Kehidupan selama 23 tahun dipenuhi dengan realita yang idealis, aku mempunyai keluarga yang lengkap dan bahagia, bersekolah dan kuliah di negeri, tidak pernah ada masalah besar dengan guru, dosen, teman-teman, juga orang tua. Semua ku lalui dengan lurus dan realita yang dihadapi membuat idealisme tumbuh. Terlebih ketika masa kuliah, di perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia, aku mengikuti organisasi mahasiswa dan tertanam akar idealisme itu. Mulai dari hobi berorganisasi sampai mengantarkan demontrasi atau sering disebut sebagai aksi ke Gedung DPR/MPR, istana presiden. Berbagai isu Negara tak pelak aku ikuti, sebagai bukti eksistensi sebagai mahasiswa dan pembuktian terhadap penampung aspirasi rakyat.

Semangat idealis begitu menggelora, karena sebenarnya aku belum bertemu dengan kehidupan sebenarnya. Dan ternyata kehidupan sekolah adalah semu karena semuanya adem ayem aja, tidak ada gejolak batin. Yang terjadi adalah ketika misalnya BBM naik, mahasiswa berbondong-bondong menuntut pemerintah dengan membawa nama rakyat. Padahal memang di luar sana, masyarakat tidak peduli dengan aksi dari mahasiswa.

Aku bukan mematahkan semangat juang para mahasiswa, karena aku pun dulu mengaku berjuang. Tapi, aku hanya ingin menceritakan sekelumit realita yang ternyata amat bertentangan dengan idealisme. Ketika mahasiswa, pernah ada yang bilang, “Wah si Pak X itu kan dulu aktifis. Sering demo juga, malah jadi mahasiswa abadi (kuliah 8 tahun). Tapi coba lihat sekarang, malah kita yang menuntut dia karena korupsi”. Aku kira itu hanya sekedar wacana. Tapi, saat ini di sini, idealisme itu dipertaruhkan.

Mata ku terbelalak, hatiku remuk redam, saat itu juga idealisme itu retak. Kiasan itu tak terlalu hiperbolis karena toh demikian adanya. Bagi siapa saja yang masih terpatri idealisme yang kuat, akan shock therapy ketika masuk ke dalam struktur pemerintahan. Apa yang terjadi tak semudah yang dituntut oleh mahasiswa. Apa yang terjadi nyatanya sedikit demi sedikit menjadi penyebab runtuhnya mental Negara.

Menjadi PNS mungkin menjadi pilihan beberapa orang, tapi tidak dengan aku. Pun bukan kebetulan lolos seleksi, karena aku berjuang untuk itu. Hanya saja, memang bukan cita-cita untuk menjadi PNS. Tak pernah terbersit untuk menjadi PNS, walau aku baru ngeh ketika melihat hope list bahwa aku bercita-cita menjadi Menteri. What?!

Walhasil, kini aku adalah seorang PNS. Bekerja dari jam 8 pagi (terkadang terlambat) sampai jam 5 sore (terkadang terlambat juga). Bekerja 2 tahun, idealisme masih kuat. Senior ku pernah berkata, “Nanti juga luntur”. Realitanya, banyak pemuda yang bekerja sebagai PNS 3 tahun, idealisme sudah luntur. Sebenarnya bukan karena dia yang melunturkannya, tapi karena sistem yang membuatnya seperti itu. Sistem yang menjadi kambing hitam. Jujur saja, aku pun belum mengetahui bagaimana warisan nenek moyang PNS tentang sistem kerja dan profesi sebagai abdi Negara yang seharusnya.

Pernah suatu ketika ada acara mentoring CPNS, angkatan kami berkumpul untuk sharing kondisi di masing-masing tempat kerja. Macam-macam kisah tentang mereka, yang membuat kaget dan hanya bisa berkata, “ckck…parah, kok bisa begitu ya?”. Diskusi itu berlanjut pada kesimpulan bahwa kita (CPNS) tidak pernah diberi tahu kondisi ideal, job description dan prosedur yang benar. Realitanya terbalik, kita dihadapi dengan pekerjaan yang kita tidak tahu dari mana asal muasalnya, penuh dengan rekayasa, dan akhirnya kita terjebak.

Pemberontakan kami muncul di masing-masing hati dan entah ketika di kantor kami menjadi bungkam. Kami, pemuda yang mempunyai idealisme berani mempertaruhkannya. Hal-hal yang telah kami pelajari dari SD hingga perguruan tinggi yang penuh dengan moral dan intelektual jangan sampai pudar dan hilang. Dalam diam, kami menguatkan idealisme sambil bertekad “Suatu saat akan berubah”.

Dari pengamatanku, banyak staf yang hampir pensiun namun mereka tidak meninggalkan warisan yang baik pada penerusnya. Malah cenderung mengajari, “ya memang begini”. Jarang sekali aku menemukan yang masih teguh, yang tersisa hanya cerita-cerita getir tentang berakhirnya masa kerja mereka, para idealis. Ada seseorang yang karena idealismenya, dikucilkan, tidak diberi pekerjaan dan tidak diberangkatkan dinas luar, akhirnya keluar lah ia. Seolah-olah ‘dongeng’ itu menjadi cerita yang membuat goyah idealisme, penghasut agar ‘jangan macam-macam atau tahu sendiri akibatnya’.

Kisah idealisme itu hanya menjadi sitiran, bahan omongan yang aneh, dan cap ‘sok suci’ bagi orang-orang idealis itu. Dampaknya adalah jejak-jejak mereka hilang. Apakah hanya ada 2 opsi, bertahan atau keluar? Bertahan dengan tempaan bagi idealismenya atau keluar dengan aman. Dalam sebuah pelatihan diklat budaya kerja, yang sebaiknya juga diberikan kepada para pejabat, seorang trainer memberi nasihat, “Boleh keluar, untuk siasat ke depan yang lebih baik. Tapi, sebenarnya kami butuh pemuda yang idealis untuk mengubah, karena yakin ke depannya akan berubah. Bagi siapa saja yang tidak berubah akan di-dinosaurus-kan”.

Seorang pemadam kebakaran, pantang pulang sebelum padam. Seorang prajurit, pantang menyerah sebelum menang. Bagi seorang PNS? Pantang luntur, sebelum berubah. Juga ada nasihat seorang pejabat yang bisa dibilang ‘mutiara’ dari beberapa mutiara di lumpur yang pekat. Beliau berkata, “Bagi yang ragu-ragu, silahkan mundur dari sekarang. Boleh punya idealisme tapi jangan terlalu besar, pertengahan saja”.

Sesuatu yang pertengahan memang baik, tidak lebih juga tidak kurang. Idealisme itu sangat penting, tapi bukan berarti mati terbunuh dengan idealisme yang terlalu tinggi. Bagaimana membumikan idealisme itu agar tak mengawang di langit, tapi juga tidak terinjak-injak. Aku mengamati setiap apa yang terjadi, yang bertolak dengan idealisme. Kemudian menelusuri mengapa terjadi demikian, agar dapat diketahui dari mana asal-usulnya. Aku mencoba menolak hal yang bisa dicegah sendiri. Namun ketika terjadi sesuatu yang sistemik dan aku tidak bisa mengubah secara langsung, nothing to do.

Menjadi PNS bukan sekedar mendapat gaji dari Negara. Tapi lebih dari itu, ada perjuangan untuk mengubah instansi pemerintah agar lebih baik. Tak usah muluk, mulai dari diri sendiri dan tempat kerja. Idealisme itu adalah harga diri dan harus dipertahankan dengan pertaruhan yang sengit antara idealisme dan realita.

-100711-

Letter for Afika

Dear afika,

Di usia 16 bulan ini, bunda melihat perkembanganmu yang begitu cepat. Dalam hal meniru, berbicara, hingga kamu bisa ngoceh dengan bahasa planet mu.. 🙂 Dan melihat perkembangan mu sungguh suatu yang luar biasa bahagia.. bunda bisa tertawa lepas hanya karena melihat tingkah pola mu. Saat pulang kerja, malam hari adalah waktu berharga untuk kita. Walau hanya beberapa jam kita bercanda, tertawa geli, mendongeng, itu adalah waktu yang tak dapat dibayar sepeser pun. Saat bunda pulang kerja dan kamu menyambut bunda dengan wajah ceria seperti sudah lamaa sekalii tidak bertemu. Bunda hanya bisa berjanji setiap hari Senin sampai Jumat, kita akan berpisah pada jam 7 pagi lalu akan bertemu kembali saat maghrib. Namun, jika bunda ingkar janji karena faktor kemacetan, bis yang lama, sehingga bunda terlambat sampai rumah, kamu akan mencari-cari bunda bahkan menunggu di depan pintu.

Nak.. tahukah bahwa pada zaman ini dimana uang bisa mengalahkan waktu. Kamu tahu bunda sudah berjanji akan berkumpul dan menemani mu sepanjang hari pada tahun depan. Tapi kenyataannya itu tidak mudah. Tekad bunda untuk resign sebagai PNS sudah bulat, untuk menjadi bunda yang setiap hari di rumah. Bunda ingin menemani masa-masa tumbuh kembang mu, golden age di mana waktu itu sangat berharga untuk mu. Bunda ingin mengajak mu bermain, membuat DIY yang bisa mengasah otak dan syaraf motoric mu. Bunda ingin mengajak mu pergi jalan-jalan sebagai stimulus mengenal apa saja yang ada di dunia ini. Bunda ingin mengajak mu melihat bunga, museum, pantai, kebun, dan tempat-tempat yang masih asing bagimu.

Nak.. tapi ternyata kebulatan tekad bunda masih dihalangi benteng, yaitu sebuah denda yang nilainya cukup besar. Kalau kamu sudah mampu berhitung, bayangkan kamu mengumpulkan seratus daun. Ya, bedanya daun bisa dengan mudah dipetik di pohon mana saja. Tapi.. uang bagi semua orang perlu pengorbanan untuk mencarinya tentunya dengan jalan yang halal.

Nak.. sebagai seorang muslim, kita diajarkan oleh Allah untuk tidak boleh menyesal & berputus asa. Perjalanan bunda sebelum memiliki mu sungguh panjang dan penuh onak duri. Sehingga, kamu memang benar-benar harta bunda yang sangat berharga. Bunda menjadi PNS kemudian mengambil beasiswa adalah karuia Allah juga takdir Nya. Bunda sempat berpikir, bahwa bunda tidak memperhitungkan konsekuensi dari pilihan bunda dahulu. Tidak pernah berpikir sedetil ini dan tidak terbayangkan perasaan meninggalkan harta berharga ternyata begituu berat.

Nak.. bunda berhutang budi pada Negara ini karena telah membiayai kuliah S2, sehingga bunda harus mengabdi kembali selama dua kali masa kuliah ditambah satu tahun. Selama 5 tahun bunda harus kembali bekerja. Sungguh, waktu 5 tahun bagi bunda lama. Bunda akan kehilangan waktu bersama mu.. Bunda kehilangan sekitar 15.840 jam bersama mu atau 1.320 hari. Maafkan afika..

Sebetulnya ini bukan saja untukmu nak.. mungkin untuk adik-adikmu yang selama 5 tahun itu bunda bekerja. Tapi, esok adalah rahasia Allah yang tidak ada satu pun makhluk tahu. Maka dalam jangka waktu 5 tahun itu, bunda tidak berani berjanji apa-apa. Bunda hanya memohon pada Allah agar diberikan jalan keluar yang terbaik. Bunda tahu waktu 5 tahun seharusnya tidak dikorbankan sebesar nominal tersebut. Justru seharusnya waktu bersama mu tak bisa dibandingkan dengan apapun. Selalu masih ada harapan, Allah Maha Kaya pemilik jagat raya.

Saat ini bunda hanya bisa melakukan yang terbaik untuk mu di setiap harinya. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin, memberi pelukan dan ciuman setiap hari. Sungguh nak.. perasaan bunda ini mungkin mewakili para working mom di bumi ini. Bunda yang mencintai anaknya dengan tulus sejatinya sakit hati bila meninggalkan anak barang sebentar saja.

Terakhir.. bunda ingin mengucapkan terima kasih nak.. selama bunda kerja, kamu tumbuh menjadi anak yang cerdas, mandiri, sholehah.. semoga Allah selalu menjagamu. Bunda titipkan kamu pada Allah.

5 Desember 2014

Bunda

craft, handmade, diy

sekarang ini saya lg keranjingan, suka, seneng, sama semua hal craft & handmade. tas, dompet, boneka, bantal, dll.. bikin mata berbinar2, hati meleleh, lihat kain2 yg lucu, unik.. huu kepengen bingit

saya salut sama mereka yg berjuang & berkutat dengan passion nya.. pasti senang dan menghasilkan pundi2 bisnis, membuka lapangan pekerjaan.. two thumbs up!

ini beberapa blog yg saya suka bacanya tentang kreasi mereka, juga beberapa barang udah ada yg aku beli.. hihi..

siapa tau kamu jg pengen cuci mata ya lihat yg cantik2 & unyu2.. hoho.. jalan2 deh ke sini..

http://diybaglover.blogspot.com/

http://idekuhandmade.blogspot.com/

http://www.kupunyahandmade.com/

http://www.uniqueartcraft.com/table-runner.html

http://ayumills.blogspot.com/2008/05/tutorial-fabric-basket.html

http://www.pinknounou.com/shop_/index.php?page=shop.waiting_list&product_id=27&option=com_virtuemart&Itemid=54

http://www.skunkboyblog.com/search/label/creatures?updated-max=2013-01-22T08:19:00-06:00&max-results=20&start=13&by-date=false

http://www.cemprut.cc/search/label/crafty%20spot

http://www.mysewstories.com/

ada juga fp di facebook nya:

https://www.facebook.com/MYURBEY –> koleksi bantalnya lucuu

https://www.facebook.com/TsabitaBoneka –> bonekanya imuut

https://www.facebook.com/pages/Craft-Sweet/108462255919064 –> pouch nya vintage

https://www.facebook.com/pages/Bonecaa/404213086300130 –> boneka yg bedaa

https://www.facebook.com/pages/Shazuka-Sew/307928746029470 –> vintage juga koleksinyaa

https://www.facebook.com/rara.sew.co.id –> boneka model2 eropa

https://www.facebook.com/ethnicandleatherbag –> tas etnik nya,, keren inii

https://www.facebook.com/pages/Sweet-Craft/645843932127542 –> tas katun2 lucu

https://www.facebook.com/pages/Circa-HandMade/349696965053682 –> bonekanya aku dah beli, cantik deh..

buat saya, handmade lokal ngga kalah dengan luar negeri. kita juga jadi menghargai karya orang lain & cintai produk2 indonesia *iklan

iih..blog ini lumutan :p

It’s been a looong time… aku udah ngga nulis di blog ini. udah lumutan kali yaa.. fuuh,,fuuh,, tiupin dulu debunya, sikat lumutnya.. yiaaay.. bismillah dulu yaa mau mulai aktif nge blog lagi aaah.. *niat-niat

sebetulnya kerinduan akan nge-blog ini terjadi setelah.. (yaelah bahasanya), setelah banyak hal yg sudah kulalui.. apa sih..

iya, pasti lah udah lama ngga nulis, berarti kan ya banyak uneg2 yg ngga dikeluarin..

Alhamdulillah.. saat ini aku sudah jadi ibuuu.. (telaaat bgt)..

Afika Syahidah Yusuf, yg sekarang sudah berusia 15 bulan ya.. lahirnya tanggal 18 Juli 2013.. bertepatan dgn 10 Ramadhan, saat dimana umat muslim sedang berpuasa, bundanya full ngga puasa.. bayar fidyah aja.. 😀

Meliahat tumbang kamu nak.. adalah segmen hidup yg paliing indah buat bunda.. anak ASI ini bertubuh mungil seperti bundanya,, hihi.. tapi pinteeernyaaa subhanallah. umur segini dah bisa ngomong banyak, jalan kelantang keliting ga mau dipegangin. pujian untukmu nak, “pinteer..”

Bunda berharap bisa terus mendampingi tumbang mu saat masa2 emas, walo pun,, ah ya.. bunda kan working mom.. setelah tugas belajar selesai harus balik lagi ke instansi, kembali mengemban tugas negara *ini lebay banget

tapi ya.. satu hal yg terdalam dari lubuk hati bunda adalah.. bunda selalu ingin ada di samping mu nak.. menemani mu main, menyuapi makan.. untuk sekarang, klo malam ya pasrahnya dimintain nenen aja krn kamu udah cape main.. hixhix..

insya Allah akan ada episode segmen hidup kita, dimana bunda akan berubah wujud jadi full time mother.. huahaha.. dan jadi ibu2 pengusaha (bukan bejabat). itu mimpi bunda.. rencana bunda.. tunggu saja ya..

segini dulu untuk pemicu nulis nih.. sangat kangen dgn passion ku yg satu ini..

dan aku yg dalam usia dua puluhan ini (rahasi loh..) masih nyari2 sebetulnya aku tuh punya bakat minat apa?? tolong ayah edy,, atau ayah lain yg bisa bantu mencerahkan.. tapi untuk menjadi ibu saja itu lebih dari cukup 😉

oke..oke..segitu dulu..

see u 😉

Life is a MAZE

Image

Ketika masa kecil, kita pasti pernah bermain ‘maze’ seperti di atas. Caranya adalah kita harus mulai dari ‘start’ dan menelusuri jalan hingga mencapai ‘finish’. Terlihat mudah, tapi ada kadalanya menemukan jalan buntu atau malah salah jalan. Permainan ini akan berhasil jika mencapai ‘finish’ dengan mulus. Tapi sadarkah jalan yang ditempuh itu tidak lurus, tapi berkelok dan membingungkan. Tentunya kalau lurus-lurus saja, bukan ‘maze’ namanya dan permainan akan terasa biasa saja.

Permainan ‘maze’ bisa jadi simulasi hidup. Bahwa tidak ada hidup yang lurus dan mulus saja. Bahkan sekaliber nabi yang sudah dijamin masuk surga, pasti hidupnya penuh dengan belokan, aral melintang, dan ujian berat. Namun nyatanya sudah jelas bagi para nabi dan salafus shalih, ganjaran pahala dan kesudahan yang baik, insya Allah jannah-Nya.

Banyak hal misteri yang kita tidak pernah tahu, ‘maze’ seperti apa yang harus ditempuh? Tapi sudah jelas, ‘finish’ nya adalah jannah. Bagaimanapun proses hidup yang berliku, itu hanya sebuah alur proses yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Ada pengusaha besar yang berangkat dari pedagang asongan, ada pejabat yang ketika masa kecilnya tidak mampu membeli sepatu, ada tukang bubur yang bisa naik haji, dan banyak ‘maze’ yang telah dilalui oleh orang-orang sukses.

Lika-liku di dalam ‘maze’ anggaplah sebuah tantangan yang harus dihadapi. Ketika menemui jalan buntu, maka berbaliklah dan cari jalan lain. ‘Maze’ dalam hidup bisa jadi cara agar kita mencari jalan lain, menemukan sesuatu yang baru, atau malah ada shortcut menuju ‘finish’.

Jangan pernah takut ketika menemui kegagalan, bangkitlah dengan optimis dan yakin bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini melainkan berasal dari Allah swt. Kalau sudah yakin bahwa Allah swt sudah mendesain ‘maze’ setiap makhlukNya, maka tak perlu ragu dan takut menghadapi hidup. Sesudah kesulitan ada kemudahn, sesudah kegagalan ada keberhasilan. Sebagaimana banyak dikatakan orang, bahwa kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.

Marilah, kita menjalani hidup yang penuh lika-liku ini, dengan tujuan untuk mencapai finish di akhirat tempat yang terbaik yaitu jannah Nya.