Mundur kecuali untuk siasat

Terkadang muncul dalam benak kita, rasa pesimis, rasa tak berarti, kecewa, dan penyakit hati lainnya yang menyebabkan ingin mundur dari suatu perjuangan.
Ketika kita tak mampu menylesaikan masalah sendiri, butuh nasihat dari orang yang bijaksana, yang mempunyai ilmu dan pengalaman di atas kita. Dan itu aku alami sendiri. Di saat aku ingin mundur dari sebuah institusi, karena berbagai realita yang dihadapi tidak sesuai dengan idealisme. Atau ketika aku merasa tidak mampu dan pesimis terhadap suatu perubahan. Aku dipertemukan dengan seizin Allah, seorang trainer yang mencerahkan dan memberi motivasi luar biasa terhadap diriku. Dia bernama Pak Bowo.

Ketika aku bertanya, bagaimana seharusnya ketika kita ragu-ragu dan ingin mundur? Pertanyaan singkat itu sebagai kesimpulan dari apa yang aku rasakan. Dan seolah-olah beliau dapat membaca kegundahan ku, dan memebri jawaban yang menohok bagiku.
Beliau berkata, kalau kamu mundur, lalu siapa yang akan melakukan perubahan? Kita ini sedang dalam proses perubahan, smeua institusi. Sudah dibuat grand design reformasi birokrasi yang akan dijalankan dan diawasi di setiap kementerian. Dan yakinlah, itu dapat dilaksanakan. Nah, kalau peraturannya sudah dibuat, lalu siapa yang menjalankan? Teringat perkataan seorang menteri yang berkata, “berikan 10 orang ‘thaliban’ untuk melakukan perubahan”. Saat ini, butuh pemuda yang pondasi keimanannya kuat dan komitmen. Karena ke depan akan banyak tantangan.
Boleh mundur, tapi untuk siasat/ strategi jangka panjang. Yaa.. memang akan berat. Maka bersabarlah. Rasulullah saw melakukan strategi dalam berdakwah.

Yaa,, begitulah nasihat beliau yang ‘membakar’ motivasi ku. Bisa saja beliau bilang, kalau mau mundur silahkan saja akan ada pengganti yang lebih baik.Sebaliknya, beliau memberikanku sugesti positif bahwa aku mampu bertahan.
Inti pesan beliau yang aku tangkap adalah agar tetap bertahan walau situasinya sulit. Dan nyatanya memang setiap perjuangan dalam sejarah pun dibutuhkan pengorbanan.

Kemudian, aku pun mendapatkan nasihat secara tidak langsung dari Inspektus Jenderal, Pak Basuki. Bahwa dibutuhkan militansi dalam bekerja, pokoknya bekerja secara profesional. Dan serahkan hasilnya pada Allah. “saya berani katakan, bahwa saya jujur tapi tidak bersih”. Dan memang yang akhirnya membuat tidak bersih adalah sistem itu sendiri. Yang ragu-ragu, keluar saja dari sekarang.

Berbagai input yang masuk ke dalam diri ku menjadi pembakar semangat dan alat bertahan. Bahwa memang, Allah mempunyai rencana yang lebih baik dari yang kita kira. Allah pun mempunyai cara untuk menjawab doa, hanya dengan bertemu dengan orang yang memebri nasihat dapat mencerahkan hati dan menghilangkan kegundahan.

Silahkan mundur, tetapi untuk strategi masa depan yang lebih baik.
Bersabarlah, karena Allah bersama orang yang sabar.