FILOSOFI BERJAMA’AH

(hasil nguprek2 file, smoga bermanfaat beberapa filosofi dalam berjama’ah. Cekidot!)

Falsafah sambungan kayu:

Secara struktural, hidup berjama’ah itu ibarat dua buah kayu yang hendak disambung. Agar bisa disatukan dengan kuat, maka kedua ujung kayu harus rela dipahat sedemikian rupa. Dari pahatan yang simetris itulah kemudian kedua ujung kayu yang sebelumnya berada pada posisi berhadapan, bisa berada dalam posisi sejajar. Lalu, penyambungan itu menjadikan salah satu kayu harus berada di atas, dan kayu yang lainnya di bawah. Bila kedua ujung kayu itu tidak bisa dipahat atau tidak bisa saling menerima posisinya, tentu kedua kayu itu tidak bisa disambung, atau kalau pun bisa ia tidak akan kuat. Tak jauh berbeda dengan hidup berjama’ah. Kebutuhan jama’ah kepada struktur yang kokoh dan baik, menjadikan orang-orang yang terlibat di dalamnya harus rela dengan beragam posisi yang telah ditetapkan. Intinya, ada yang harus di bawah menjadi anggota yang siap dipimpin dan memberikan ketaatan, ada juga yang harus di atas menjadi memimpin, yang siap menjaga amanah kepemimpinannya serta ketaatan anggotanya.

Falsafah air mengalir:

Visi dan misi sebuah jama’ah tak jauh berbeda dengan visi misi air. Air sudah punya tujuan yang jelas: mencari tempat yang lebih rendah. Segala cara akan ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut. Bila ada halangan, air itu akan mencari alternatif. Misalnya, memisahkan diri sementara untuk kemudian ketemu dan bersatu lagi. Begitu seterusnya. Bila ada halangan yang lebih besar. Air itu akan mengumpulkan kekuatan, barulah ia akan meninggi melampaui halangan tersebut. Pada saat itu, kekuatannya akan menjadi dahsyat. Dengan visi misi yang jelas, air menjalani segalanya dengan tenang. Bahkan, dalam ketenangannya pula, sering ia menaklukan dan melumpuhkan musuh-musuhnya. Bila tugas-tugasnya berakhir dan tujuannya telah tercapai, dan ia telah berada di tempat rendah, seperti di laut, misalnya, ia akan melakukan regenerasi. Karenanya, sebagian air yang menggenang tenang itu akan menguap menjadi awan, lalu muncul anak cucu generasi barunya yang lahir melalui hujan. Begitulah, hidup berjama’ah seharusnya pun demikian. Dengan visi misi yang jelas, ia seharusnya menjadi siklus panjang sebuah amal bersama. Bahkan tanpa kata akhir. Sampai akhirnya, hanya hari akhir yang harus mengakhiri siklus itu.

Falsafah pohon pisang:

Etos kerja berjama’ah bisa mengambil ibrah dari pohon pisang. Orientasi beramal, berkarya, dan memberi sunbangsih nyata adalah tabiat pohon pisang. Salah satu keunikan pohon pisang, bila ia belum berbuah, maka ia akan terus tumbuh dan berkembang sampai berbuah. Bahkan, kalau pohon itu ditebang, ia akan muncul lagi dan tumbuh terus sampai ia besar dan memberikan buah. Demikian seterusnya. Ia tak akan bosan untuk terus berusaha dan berkarya. Setelah berhasil memberikan prestasi dengan buahnya, pohon itu akan menjalani sisa hidupnya secara alami, dengan tetap menyediakan dirinya untuk dimanfaatkan sesuai dengan kemampuannya seiring dengan usianya yang kian renta. Ada daunnya, ada gedebongnya. Orang-orang yang ingin hidup berjama’ah harus lebih dulu berpikir apa yang bisa diiberikan untuk jama’ah, meskipun rintangan selalu mengitari. Jangan justru sebaliknya, selalu berpikir apa yang bisa dia dapatkan dari jama’ah.

Falsafah semut:

Kinerja dan pembagian tugas dalama jama’ah, tak ubahnya seperti kinerja komunitas semut. Mereka banyak memiliki keunikan. Ada semut-semut khusus yang tugasnya invetigasi, khususnya mencari makanan. Jumlah tim ini tidak banyak. Bila mendapatkan makanan, tim investigasi itu akan balik melapor dan tidak langsung membawa sendiri makanan itu. Barulah setelah itu, datanglah tim pengangkut dengan jumlah yang seimbang dengan makanan yang didapatkan. Lalu, mereka pun bergotong royong membawa makanan tersebut ke sarang. Hebatnya, semut itu mampu membawa beban jauh beberapa kali lipat dari badannya. Bila proses pengangkutan itu selesai, masih ada tim evaluasi. Tugasnya memeriksa kalau-kalau ada yang tertinggal.
Dalam berjama’ah, kinerja yang rapi dan beretos tinggi sangat dibutuhkan. Beban da’wah yang berat, selain membutuhkan pembagian tugas yang baik, juga membutuhkan kesiapan para junud untuk bekerja dan memikul beban lebih dari manusia biasa.

Falsafah roda berputar:

Dinamika berjama’ah, meski tak sama persis, bisa diibaratkan roda kendaraan. Roda sebuah kendaraan biasanya tersambung dengan roda gigi mesin. Gigi satu untuk medan khusus, gigi dua untuk medan tertentu, demikian juga gigi-gigi roda yang lain. Dalam iklim berjama’ah, dibutuhkan perputaran yang sehat, dengan mempertimbangkan beberapa hal, seperti kebutuhan untuk memperluas wilayah kerja, penempatan orang seusai keahlian, penggantian orang yang lebih pas, dan pertimbangan-pertimbangan lain. Seperti kisah diberhentikannya Khalid bin Walid sebagai panglima perang, demi mashlahat yang lebih besar. Dalam berjama’ah, pergantian dan penempatan harus tepat, seperti gigi-gigi mesin kendaraan. Namun, yang tak kalah penting adalah, para junud atau anggota harus siap menerima perubahan dan perputaran yang diperlukan.

Falsafah sambungan tali:

Dalam berjama’ah, ada posisi-posisi kunci yang sangat genting. Seperti dua tali yang disambung, maka, sebagian dari ujung tali tersebut harus terlipat dan terjepit. Bahkan, bila beban tarikan kedua tali kian berat, bagian yang terjepit tersebut kian tertekan. Dalam jama’ah diperlukan orang-orang yang rela mengambil peran-peran genting dan berisiko tinggi itu. Tentu tidak semua orang siap. Hanya orang–orang khusus, yang terbina secara khusus, yang siap memikul tugas-tugas khusus. Sebab, tugas khusus itu memerlukan pengorbanan khusus.
Di masa Rasulullah, peran seperti itu dicontohkan Abu Bakar yang menemani hijrah Rasulullah. Atau peran Hudzaifah yang menyusup ke pasukan kafir pada perang Ahzab, atau para sahabat yang menjadi tameng Rasulullah pada perang Uhud, saat Rasulullah terperosok ke lubang galian dan serangan bertubi-tubi datang. Contoh lain masih banyak. Ibarat ujung tali yang terikat tadi, mereka telah menjual diri kepada Allah untuk tugas-tugas berat itu.

Sumber:Tarbawi, edisi 5 Th.I 5 Januari 2000

Tambahan:
Falsafah Atom:

Dalam inti atom terdapat proton yang bermuatan positif dan neutron yang tidak bermuatan. Proton-proton itu saling tolak menolak sehingga bisa terpencar. Jadi, dibutuhkan neutron yang tugasnya untuk menstabilkan proton agar tetap berada dalam inti atom. Lalu terdapat elektron yang mengelilingi inti atom.
Ibaratkan para da’i adalah proton, yang pada hakikatnya memiliki banyak perbedaan; latar belakang, sifat dan karakter. Dalam perjalanan da’wah tak sedikit kerikil-kerikil yang ditemui yang bersumber dari da’i itu sendiri. Berawal dari perbedaan pendapat, perdebatan, dan akhirnya tidak sedikit yang berguguran atau berhenti di tengah jalan karena beberapa alasan. Na’udzubillah. Kejadian itu pasti terjadi, karena da’i adalah manusia yang mempunyai banyak kekurangan. Dengan adanya saudara, maka kekurangan kita bisa tertutupi dengan saling mengingatkan dan menasehati, juga dengan ditutupi oleh kelebihan saudara kita. Maka, bisa saja da’i sama tabiatnya seperti proton, yang Allah ciptakan dengan berbeda karakter. Jika proton saling tolak menolak karena mempuyai muatan yang sama, maka da’i mengalami saling tolak menolak karena beberapa perbedaan yang ada.
Dalam hidup berjama’ah ada fungsi penetral seperti neturon, yaitu ukhuwah. Faktor ukhuwah sangatlah penting dalam berjama’ah, ketika tumbuh rasa saling mencintai karena Allah, maka tak ada lagi konflik antara da’i itu sendiri. Bahkan sahabat Rasulullah begitu saling mencintai. Abu Bakar begitu mencintai Rasulullah saat menemaninya hijrah, ketika di dalam Gua Hira, ia rela kakinya digigit ular karena tidak ingin mengganggu Rasulullah yang sedang tidur di pangkuannya. Kecintaan antara sahabat juga dicontohkan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshor, ketika dipersaudarakan. Ukuhuwah menjadi pengikat hati para muslim sehingga jama’ah akan tegak dan kokoh.
Elektron yang mengelilingi inti atom adalah medan da’wah yang harus dihadapi. Lingkaran jama’ah layaknya lingkaran inti atom yang selalu bergerak. Dibutuhkan neutron yang banyak agar proton tidak lepas dan tidak terurai. Maka dalam kehidupan berjama’ah dibutuhkan ukhuwah yang kuat, tingkat terendah adalah husnudzon dan tingkat tertinggi adalah itsar.
Allahu a’lam.
Evi Fauziah
19 Juli 2008