TOTALITAS SAMPAI SEJAUH MANA?

Masih ingatkah kita akan sebuah lagu yang selalu dinyanyikan ketika mahasiswa berdemo, aksi turun ke jalan. Berikut penggalan lagunya..

Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan

Kepada rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan

Sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan

Wahai kalian yang turun ke jalan

Demi mempersembahkan jiwa dan raga

Untuk negeri tercinta

Judul lagu di atas adalah Totalitas Perjuangan. Maka dari judulnya saja kita sudah bisa mengetahui bagaimana seharusnya perjuangan itu. Satu kata yaitu Totalitas. Namun seringkali banyak orang berbeda mendefinisikan arti kata Totalitas. Apa yang dimaksud totalitas? Apa syarat dari sebuah totalitas? Apakah dengan menyerahkan seluruh harta, jiwa, dan raga adalah bentuk totalitas?

Setiap manusia tentunya mempunyai kapasitas yang berbeda. Walaupun Allah menciptakan manusia tanpa membedakan yang pintar dan tidak pintar, yang lebih besar kapasitasnya atau yang sedikit. Ternyata kapasitas manusia sebenarnya bisa diubah, bisa ditumbuhkan dengan kemauan diri sendiri. Tak ada yang tahu kapasitas atau kemampuan kita selain Allah dan diri sendiri. Orang lain hanya bisa menebak dan melihat jerih payah atau usaha kita untuk mencapai suatu tujuan.

Kemampuan kita dapat memperlihatkan sejauh mana totalitas itu. Ada sebuah kisah, tentang seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahun sebutlah Fulan, yang memberi inspirasi tentang sebuah kemampuan diri. Ketika itu ada perlombaan lari mengelilingi lapangan sepak bola. Putaran pertama, kedua dan ketiga masih dapat dilalui oleh seluruh peserta. Namun, saat putaran keempat dan kelima sudah banyak yang berhenti lalu mundur. Ada pula yang sampai muntah di pinggir jalan. Wajah Fulan pun sudah memerah karena kelelahan, namun dia tidak berhenti. Teman-temannya mengatakan, “Sudah berhenti saja. Kamu sudah tidak kuat”. Fulan tidak mempedulikan sara teman-temannya, karena dia berpikir dia masih mampu dan ini belum mencapai batas maksimal kemampuannya. Putaran terakhir hanya tinggal dia sendiri dan dia ingin mencapai final dengan sempurna. Akhirnya dia mencapai finish, dan tanpa sadarkan diri, dia terjatuh ke tanah, pingsan.

Itulah batas kemampuan lelaki itu. Dimana dia tidak ingin berhenti di saat yang lain berhenti. Karena keyakinannya dan keoptimisan akan kemampuan dirinya yang membuat dia kuat. Artinya, seharusnya kita bukan mengucapkan,”Semampunya aja deh..”. Tapi, ada pencapaian maksimal dalam kemampuan kita.  Sebenarnya otak ini memang belum digunakan secara maksimal. Bahkan mungkin, telalu banyak diisi oleh hal-hal yang tidak berguna.

Arti Totalitas begitu kompleks dan tidak semudah yang diucapkan. Ketika pelaksanaannya kita akan terbentur dengan banyak halangan dan rintangan yang akan menguji ‘Seberapa jauh Totalitas itu?’ Surga itu sangat mahal, tentunya Allah tidak akan menjual murah apalagi diskon. Sungguh, Allah akan melihat seberapa jauh Totalitas Perjuangan kita.

Totalitas, mungkin bukan hanya total pada satu jenis pekerjaan. Tapi, sebaiknya kita bisa terlatih untuk multi tasking. Dan era globalisasi pun menuntut kita untuk memiliki skill multi disiplin ilmu, bukan hanya pada core-competence saja. Pun kenapa kita lari dari kenyataan, jika ada suatu tempat atau orang-orang yang membutuhkan bantuan, lalu kita menghindar karena alasan ingin total pada satu bidang saja. Apakah itu totalitas?

Sekali lagi, sulit mendefinisikan arti totalitas. Memang artinya tidak setengah-setengah, tidak seperempat. Artinya kita bertangungjawab terhadap amanah yang telah diemban. Kita pun tahu betapa berat beban amanah yang dipikul manusia. Apakah karena kebodohan manusia? Padahal gunung dan langit saja tidak berani menerima amanah dari Allah. Tapi itulah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tentunya manusia yang menjadi khalifah di muka bumi.

Kembali mengingat syair lagu Totalitas Perjuangan. Semoga dimanapun kita berada dapat memberi kontribusi bagi sekitar, dan itulah wujud dari perjuangan. Jika kita tidak bisa mencapai finish perjuangan dan menuai hasilnya, paling tidak kita akan memberi tongkat estafet pada orang lain yang lebih baik dari kita. Jika kita tidak ingin total dalam perjuangan pun, itu tak apa. Jika kita ingin totalitas dalam perjuangan, maka sesunguhnya itu pun berat. Mudahnya, kerjakan saja apa yang kamu bisa dengan segala kemampuan dan potensi. Terakhir, tak usah pusing memikirkan berapa hasil yang kita peroleh, total atau tidak. Yakin,bahwa nilai dan hasil itu akan kita peroleh nanti ketika bertemu denganNya. Bersiap-siaplah, karena hidup tidak mengenal siaran tunda.

-ef-

25 Februari 2008

23.05 @ bedroom

PEMBINAAN SEPANJANG MASA

Manusia adalah makhluk yang selalu berkembang. Proses pembelajarannya panjang, sampai akhir hayat. Belajar berjalan, berbicara, dan berinteraksi, itu semua didapatkan melalui proses yang panjang yang disebut dengan proses pembinaan. Orang tua meberikan pembinaan kepada anaknya agar dapat berkembang dengan baik, disekolahkan, diberi fasilitas, dan lain sebagainya demi pertumbuhan anaknya agar menjadi manusia seutuhnya.

            Pembinaan itu berlaku di mana saja dan kapan saja. Setiap orang bisa membina dan dibina. Mungkin kita tak pernah sadar bahwa ada orang lain yang sedang membina kita dan setiap harinya kita akan mendapatkan pembinaan dan pembelajaran yang berharga, sehingga memang begitu banyak apa yang manusia dapatkan selama proses hidupnya. Tergantung bagaimana ia memroses input yang didapatkan sehingga menghasilkan output yag berguna bagi dirinya sendiri.

            IKM FTUI mempunyai sebuah rancangan pembinaan bagi mahasiswa S1 reguler dan Program Internasional, yang tertuang dalam Grand Design Pembinaan (GDP) 2008. Landasan pembinaan di IKM FTUI adalah Peraturan Rumah Tangga (PRT) Bagian Ketiga pasal 4, mengenai pembinaan anggota. Pembinaan bersifat berkesinambungan untuk jangka waktu selama masa keanggotaannya masih berlaku, yaitu masih menjadi mahasiswa S1 Reguler atau Program Internasional FTUI.

            Dalam PRT Bagian Ketiga Pasal 4 ayat 4, terdapat proses yang bertahap dalam pembinaan di IKM FTUI, antara lain Proses Pembekalan Anggota muda (PPAM), Masa Bimbingan (Mabim), Kaderisasi Dasar, Kaderisasi Lanjutan, dan Pembekalan Pascakampus. Selanjutnya dalam ayat 5 dijelaskan bahwa, pembinaan anggota merupakan tanggung jawab seluruh lembaga kemahasiswaan IKM FTUI dikoordinasikan oleh MPM FTUI.

            Berdasarkan GDP 2008, pembinaan didefinisikan sebagai proses pengembangan ke arah yang lebih baik, dari segi paradigma, kemampuan, dan sikap. Perubahan dari segi paradigma adalah perubahan sudut pandang dan pola pikir  anggota IKM FTUI agar sesuai dengan fungsi dan kedudukannya sebagai mahasiswa. Perubahan dari segi kemampuan adalah peningkatan kemampuan (skill) anggota IKM FTUI  untuk mencapai kualitas SDM yang mampu bersaing dalam hal akademis dan non akademis. Perubahan dari segi sikap adalah perubahan menjadi pribadi yang unggul sesuai dengan kode etik IKM FTUI.

Tahap awal bagi Mahasiswa Baru (Maba) adalah PPAM dan Mabim. Keduanya merupakan sebuah alur pembinaan yang diperuntukkan bagi Maba untuk memperkenalkan dunia kampus dan memberikan muatan dasar yang harus dimiliki oleh mahasiswa. Akhir dari tahap awal ini ditandai dengan kelulusan. Maba akan berubah status menjadi anggota aktif IKM FTUI jika berhasil lulus dalam fase 1 (PPAM dan Mabim), namun jika belum lulus masih dapat menjadi anggota aktif IKM FTUI melalui prosedur yang ditetapkan.

            Alur pembinaan akan diturunkan menjadi nilai dan skill yang diharapkan dapat dimiliki oleh mahasiswa (objek pembinaan). Sehingga parameter pembinaan terukur dan dapat dilakukan penilaian untuk Maba sehingga mengantarkannya pada kelulusan. Namun, proses ini sangat tergantung pada objek pembinaan tersebut, apakah ia ingin dibina atau tidak, apakah ia ingin menjalani proses ini atau tidak. Maba memang berhak memilih untuk tidak mengikuti alur pembinaan, namun merugilah mahasiswa yang tidak mengikuti pembinaan.

            Pembinaan adalah sebuah keniscayaan. Melalui cara ini, dapat dilihat perkembangan mahasiswa selama menjalani kehidupan di kampus. Sehingga mahasiswa tidak saja mendapatkan ilmu di bangku kuliah, namun mendapatkan ilmu di luar bangku kuliah melalui alur pembinaan yang disediakan. PPAM dan Mabim adalah hanya sebuah sarana dan fase yang harus dilewati, selanjutnya mahasiswa akan menjalani pembinaan sampai ke fase Pascakampus.

            Output dari pembinaan IKM FTUI adalah mempersiapkan mahasiswa agar siap menjalani dunia pascakampus. Dari data BPS, jumlah pengangguran untuk tahun 2008 (Februari) sebanyak 10.011.142 orang. Diantaranya sebanyak 626.202 orang adalah tingkat pendidikan Universitas. Dengan adanya pembinaan, mahasiswa akan mendapat soft skill yang dapat menjadi modal untuk dunia kerja. Sangat disayangkan, jika mahasiswa hanya berkuliah saja, atau hanya mendapat hard skill dalam perkuliahan, sementara yang juga dibutuhkan adalah pengembangan soft skill.

            Pembinaan berlaku sepanjang masa, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan pada zaman itu. Maka jalani saja pembinaan dengan hati yang riang dan ikhlas, dan ambillah pelajaran yang berharga dan pengalaman yang didapatkan dari proses ini. Yakinlah bahwa proses pembinaan merupakan bagian dari proses hidup ini.

 

 

Evi Fauziah

7 Juli 2008 9.25 am.

publish mading Teknika