Making New Friends at Palu

Palu? Itu propinsi mana ya? Sulawesi Tengah tau…
Hoo,, belum pernah sebelumnya aku pergi ke Pulau Sulawesi, Pulau yang berbentuk seperti Gajah. Ada kaki dan belalai. Ketika ditugaskan, saya siap berangkat!
Tidak ada keinginan sengaja untuk jalan-jalan sambil kerja. Itu hanya selingan saja. Tugas selama 1 minggu di Palu bukan dengan maksud jalan-jalan. Tapi Allah menakdirkan berbeda. 3 orang perempuan dan 1 orang laki-laki dari peserta ternyata menjadi teman ku. Mereka adalah Riry, Indry, Cynthia, dan kak Andi.
Hari ke-5 acara, Riry mendekati ku mengajak berkenalan. Usia kami sebaya sehingga mudah untuk berkomunikasi. Cerita tentang pekerjaan dan pengalaman. Teman-temannya pun datang menghampiri ikut ngobrol.
“Mba, mau kami antar beli oleh-oleh ngga?, tanya Riry.
“Oh, boleh..”, saya mengangguk.
Malam itu adalah malam terakhir ku bertugas di Palu, tapi meninggalkan kesan yang mendalam. Aku diajak beli oleh-oleh lalu makan pisang di pinggir pantai. Ketika pesanan pisang datang, aku heran karena pisang goreng itu dihidangkan dengan sambal. “Kok pakai sambal?.” Riry hanya tersenyum, “Iya, kalau disini pisang goreng dimakan pakai sambal. Aku membulatkan bibir dan mengangguk. Tak menunggu lama, aku makan pisang itu. Suasana angin malam, dengan suguhan pisang goreng+sambal dan susu panas, pasangan yang serasi.


Kak Andi menyukai fotografi dan saat itu dia membawa kamera SLRnya. Kesempatan tepat untuk meminta difoto. Walau background pantai tidak terliaht, tapi ada jembatan dengan lampu yang menjadi latarnya.
Sedang asik berbincang, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Kami yang duduk di saung, segera pindah ke tenda. Pisang goreng dan minuman segera diamankan. Akhirnya kami duduk menunggu hujan turun, sambil tetap memakan pisang goreng :)
Setelah hujan berhenti, “Eh, kita main ke jembatan yuk”, Indry memberi alternatif tempat.
Jembatan yang tadi menjadi latar belakang foto, sekarang menjadi objek foto. Walaupun mobil dan motor lalu lalang, kami tak malu bergaya di jembatan bagaikan model. Tapi ini murni hanya untuk kebersamaan, bukan pamer.. ^^v

Tak selesai rupanya mereka ingin membuat kesan yang sangat indah. Esok pagi, Riry mengajak ku jalan-jalan ke kampusnya. Sesama Teknik Sipil, ada jiwa senasib sepenanggungan.. hehe..
Riry, Indry dan Cythia menjemputku dengan motor. Indry dibonceng Cynthia, aku dengan Riry. Wow, kami bermotor-ria. Perjalanan menuju kampus sekitar 1 jam, jalanan cukup lengang namun ada proyek pengaspalan. Pemandangannya tak lain adalah tanah gersang penuh kaktus, tebing, dan beberapa rumah. Ternyata letak Palu yang berada di tengah Indonesia, membuat suhu panas dan gersang, mendekati gurun.
Sesampainya di kampus, bensin motor Riry habis. Untung saja ada kak Andi yang bersedia membelikan bensin botolan. Kami lanjutkan menuju Departemen Teknik Sipil. Ternyata kampusnya sangat luas, menurut kak Andi kampus ini adalah yang terbesar se-Asia Tenggara. Mengalahkan kampus ku.
Kejadian berkesan lainnya adalah masih dengan motor Riry, ban motornya bocor. Wah, apa karena bebannya terlalu berat? Dengan tidak enak hati, Riry meminta tolong kak Andi (lagi). Kak andi, sebagai the one and only man, rela mendorong motor sampai ke luar kampus. Dan kami para perempuan, naik motor bergantian. Untung yang kedua, tukang tambal ban ada di seberang kampus sekitar 100 meter. Hmm,,sepertinya kejadian ini sudah cukup sering dialami mahasiswa di sini.
Aku kasihan melihat mereka kelelahan, sebagai gantinya aku mentraktir mereka minum :) What a wonderful friendship!

Seolah tak cukup membuat ku senang, mereka mengajak ku ke sebuah bukit. Aku kira bukit biasa saja, karena toh memang banyak bukit. Jalan menuju bukit itu sempit dan berbatu. Tapi akhirnya setelah sampai.. aku takjub. Aku seperti berdiri di atas laut, bisa melihat pemandangan yang indah, namun kontras dengan kaktus-kaktus besar yang berdiri mematung.
Kak Andi mengeluarkan kameranya dan kami pun bersiap untuk.. “1..2..3..”

Kalau saja hari itu tak dibatasi dengan jadwal penerbangan pulang, aku ingin menghabiskan waktu di Palu. Riry membujukku untuk tinggal satu hari lagi. Tapi, tiket sudah dipesan, pun tugas sudah berakhir. Aku harus pulang.
Hari itu ditutup dengan makan bersama. Lagi-lagi Kak Andi yang menjadi ‘the one and only’ yang mentraktir.
Perjalanan ini sangat berkesan dengan bertemu kalian yang seolah-olah sudah berteman sejak lama, kita sudah akrab tanpa perlu penyesuaian yang lama.
Terimakasih untuk Riry,Indry, Cynthia, dan kak Andi. U are my new friends..:)

Waiting for The Sunset at Senggigi Beach

Ini adalah awal perjalanan dinas ku.. ke Mataram, NTB. Setelah acara selesai, beres-beres langsung ke Pantai Senggigi. Sampai di tempat, ternyata… pantainya sepi.. krik,,krik,, tapi memang waktu itu hari Kamis, bukan hari libur.
Ada sekitar 3 turis asing yang sedang berjemur dekat hotel. Wisatawan lokal? Hmm,, ya kami saja. Tak apa lah, aku tetap senang hanya dengan melihat pemandangan pantai. membentang luas lautan tak tahu tepinya. Pasir putih yang menggelitik kaki dan kepiting-kepiting kecil yang malu-malu masuk lubang. Dan tak kalah menyenangkan adalah melihat ombak bergulung, naik ke permukaan lagi lalu permisi mundur.

Entah, melihat pantai bagaikan engintip pesona surga. Berdecak kagum, Subhanallah..
Saat itu kami datang sore hari, akhirnya kami pergunakan kesempatan untuk menunggu matahari terbenam. Sebagai anak kota (gayaa..), pergi dari rumah-pulang ke rumah tidak melihat matahari. Artinya pergi dari rumah memang tidak saat matahari terbit, pulang ke rumah sudah malam hari. Maka, kesempatan ini tak boleh dilewatkan. Matahari akan terbenam, nelayan siap berangkat melaut.

Duduk sajalah sambil menunggu matahri terbenam. Ya, dia seolah-olah mengumpat di balik lautan. Yang tertinggal hanya pendaran cahayanya. Dan dia pun bercermin pada laut, bayangannya jatuh, Dia mulai memendek, hitungan menit langit menggelap. Sunyi senyap. Matahari itu perlahan hilang.

Teringat kisah Nabi Ibrahim as yang mencari tahu ‘Siapakah Tuhan ku?’. Matahari menjadi salah satu objek yang ia amati, karena pada waktu itu ada kaum pemuja matahari. Tapi sungguh cerdas nabi Ibrahim, ia tidak percaya bahwa matahari adalah Tuhan, karena matahari dapat menghilang.
Segala apa yang ada di bumi merupakan ciptaan Allah yang pautut disyukuri, sebagai wujud akan keberadaan Allah swt.

Waiting for The Sunset was Fun! :)