“Keberhasilan suatu negara bukan dari sumber daya alam yang melimpah.
Lihat saja negara Swiss, yang tidak memiliki kebun cokelat tetapi menjadi produsen cokelat dan susu nomor satu.
Keberhasilan suatu negara juga tidak ditentukan dari luas negaranya.
Tengoklah negara sebelah, Singapura yang luasnya tidak melebihi luas DKI Jakarta, tapi maju.
keberhasilan suatu negara adalah terletak pada Sumber Daya Manusia.”
Kutipan di atas, sudah beberapa kali aku dengar dari motivation training.
Pada intinya, moralitas dan pendidikan masyarakat menentukan maju atau tidaknya suatu negara.
Ini berkaitan dengan isu yang saat ini terjadi.
http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/15/09254293/Kronologi.Nyontek.Massal.di.SD.Pesanggrahan
dan http://edukasi.kompas.com/read/2011/06/15/09474924/Ibu.Siami.Si.Jujur.yang.Malah.Ajur
Ini terjadi di negeri tercinta ini, dimana siswa yang pandai dipaksa membuat jawaban dan disebarkan ke siswa lain. Juga dibuat simulasi untuk mencontek. Hufft,, jaman dahulu siswa saja takut untuk mencontek.
Geleng-geleng kepala, miris sampai ingin menangis melihat apa yang diajarkan para pengajar di suatu sekolah kepada muridnya. Bukan moral kejujuran dan kecerdasan yang diajarkan, tapi secara tidak sengaja guru tersebut sudah melahirkan generasi penghancur bangsa. Na’udzubillahi min dzalik.
Bagaimana tidak, ketika untuk mencapai sesuatu (baca: lulus UN), guru mengajarkan mencontek kepada muridnya. Sudah tercatat dalam sejarah, bahwa setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan dan keikhlasan.
Apakah yang dipikirkan oleh para guru tersebut? apakah hanya hasil instant atau shortcut agar siswanya dapat lulus semua. Atau prestise sekolah, bahwa tidak ada siswa yang tidak lulus UN. Astaghfirullah..
Teringat, kata-kata pakar pendidikan, Arif Rahman bahwa dalam kurikulum pendidikan juga diajarkan tentang etika dan moral. Tapi, ketika ada kejadian seperti ini, maka yang seharusnya mendapat pendidikan terlebih dahulu adalah pendidiknya.
Dari sekian banyak guru, saya yakin banyak guru yang memiliki integritas dan layak disebut pahlawan tanpa tanda jasa.
Dan aku sangat menghargai beliau-beliau. Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada mereka.
Tapi, maaf saja. Untuk para guru yang melakukan hal tidak bermoral (baca:mengajarkan mencontek), maka aku turut bersedih dan mendoakan semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka.
Ini sekedar pencurah kegundahan, bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa. Mendidik adalah kewajiban setiap orang kepada siapa saja.
Mendidik bukan berarti dalam kehidupan sekolah saja, tapi lebih dari itu kehidupan ini mendidik kita banyak hal. Semoga anak-anak yang jujur mengerjakan UN mendapatkan hasil yang terbaik.

Ketika mencontek menjadi kurikulum pendidikan, lalu kapan dan bagaimana Indonesia dapat maju dan berhasil?
Pendidikan di Indonesia ini sepertinya tidak ada arah. Di sudut lain Indonesia, siswa membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai untuk sekolah. Berita yang termuat di media, seperti suasana UN di kelas yang dijadikan tempat ternak bebek. Akhirnya, ujian tidak berjalan maksimal. Juga ada banyak anak di seberang sana, yang sangaaat ingin bersekolah, tapi mereka tidak mampu. Marilah berbenah untuk pendidikan yang lebih baik, untuk pra orang tua, guru, siapa saja dan dimana saja.



