Kehilangan adalah sebuah keniscayaan

Dalam kehidupan ini sejatinya kita tidak memiliki apa-apa. Semua yang seolah-olah milik kita adalah pemberian dari Allah. Termasuk diri kita sendiri. Sehingga apa yang ada dalam genggaman kita bisa hilang kapanpun Yang Memiliki inginkan.
Sebut saja harta, begitu nyata terlihat mampu kita genggam, tapi sering tanpa kita duga hilang bigitu saja. Begitu pun dengan orang terdekat, kedua orang tua, suami/istri, anak, teman, mereka akan ‘diambil’ oleh Yang Memiliki. Oleh karenanya kita tak bisa mendekap mereka selamanya.

Dengan sunatullah bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah fana dan akan hilang, maka kita hanya mampu berusaha terus memperbaiki diri. Bagaimana caranya mengelola harta agar ketika harta itu hilang, kita mampu ikhlas. Bagaimana caranya mencintai seseorang dengan tidak berlebihan, karena pasti dia pun akan pergi meninggalkan kita.
Juga di akhirat nanti, tak ada satu pun yang bisa menolong kecuali diri sendiri. Amal yang telah kita lakukan hanya akan menjadi penolong pun dengan doa-doa dari anak yang sholeh.

Islam mengajarkan bahwa ketika mendapat musibah, yang diucapkan adalah “innalillahi wa inna ilahi raajiu’un”, sesungguhnya segala sesuatu milik Allah dan akan kembali kepada Nya. Dibalik yang hilang, Allah akan memberi pengganti yang baru. Dibalik yang hilang ada hikmah bahwa tak ada yang kekal kecuali Allah. Dibalik yang hilang, tersadar bahwa tak ada daya dan upaya kecuali hanya milik Allah. Dan dibalik yang hilang, kita harus banyak bersyukur akan apa-apa yang Allah titipkan sementara di dunia ini.

(EF)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s