IHSAN

Pengertian Ihsan adalah mengerjakan sesuatu dengan baik. Hal ini termasuk ke dalam akhlak Islam seperti ihsan dalam bergaul, ihsan dalam berbicara, dan lain-lain. Rasulullah saw. bersabda, “Allah senang jika kalian mengerjakan sebuah pekerjaan dengan baik” (HR. Al Thabrani). Ayat-Ayat tentang … Continue reading

Kehilangan adalah sebuah keniscayaan

Dalam kehidupan ini sejatinya kita tidak memiliki apa-apa. Semua yang seolah-olah milik kita adalah pemberian dari Allah. Termasuk diri kita sendiri. Sehingga apa yang ada dalam genggaman kita bisa hilang kapanpun Yang Memiliki inginkan.
Sebut saja harta, begitu nyata terlihat mampu kita genggam, tapi sering tanpa kita duga hilang bigitu saja. Begitu pun dengan orang terdekat, kedua orang tua, suami/istri, anak, teman, mereka akan ‘diambil’ oleh Yang Memiliki. Oleh karenanya kita tak bisa mendekap mereka selamanya.

Dengan sunatullah bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah fana dan akan hilang, maka kita hanya mampu berusaha terus memperbaiki diri. Bagaimana caranya mengelola harta agar ketika harta itu hilang, kita mampu ikhlas. Bagaimana caranya mencintai seseorang dengan tidak berlebihan, karena pasti dia pun akan pergi meninggalkan kita.
Juga di akhirat nanti, tak ada satu pun yang bisa menolong kecuali diri sendiri. Amal yang telah kita lakukan hanya akan menjadi penolong pun dengan doa-doa dari anak yang sholeh.

Islam mengajarkan bahwa ketika mendapat musibah, yang diucapkan adalah “innalillahi wa inna ilahi raajiu’un”, sesungguhnya segala sesuatu milik Allah dan akan kembali kepada Nya. Dibalik yang hilang, Allah akan memberi pengganti yang baru. Dibalik yang hilang ada hikmah bahwa tak ada yang kekal kecuali Allah. Dibalik yang hilang, tersadar bahwa tak ada daya dan upaya kecuali hanya milik Allah. Dan dibalik yang hilang, kita harus banyak bersyukur akan apa-apa yang Allah titipkan sementara di dunia ini.

(EF)

Selamat Tinggal Kesedihan

It’s time to say ‘Goodbye to sadness’!!

Kesedihan adalah keniscayaan dan pasti terjadi. Karenanya ada air mata yang disebabkan kesedihan. Mustahil hidup ini tanpa kesedihan, karena dia berpasangan dengan kebahagiaan. Sebagaimana kesulitan bersama kemudahan. Ada keseimbangan di dalamnya, bagaimana mungkin orang akan selalu bahagia di dunia. Menurut penelitian pun, bahwa perasaan sedih itu juga positif, baik untuk kesehatan dan pikiran. Orang yang sedang dirundung kesedihan akan lebih fokus dan teliti mengerjakan sesuatu.

Dan aku sama seperti dirimu dan yang lain, merasa kesedihan. Kesedihan bisa berbarti ujian ataupun bencana yang menimpa kita. Yang perlu selalu diingat adalah bahwa Allah swt. pasti akan menyediakan sesuatu yang lebih baik dari yang kita duga sebelumnya. Yang harus selalu ditanam dalam pikiran ketika mengalami kesedihan adalah bahwa kejadian ini akan segera berakhir dan melalui ini kita akan lebih kuat dan tegar.

Kesedihan bukan berarti cengeng atau menyerah dalam keadaan. Memang tak bisa dihindari ketika kesedihan menghampiri. Hanya jangan biarkan dia berdiam lama dalam diri. Jangan biarkan dia nyaman bersemayam dalam hati. Karena hanya akan menimbulkan kesedihan yang lebih dalam dan akan menimbulkan dampak negatif bagi hati. Sejatinya hati ini tidak bisa menerima kebahagiaan terus menerus, demikian pula kesedihan yang terus menerus. Oleh karenanya, Umar bin Khatab pernah berkata bahwa “Lunakkanlah hati, karena Hati yang kerasa lama-lama akan menjadi batu”. Jangan sampai hati kita membatu karena kesedihan yang akhirnya menyebabkan stres dan depresi. bahkan banyak saat ini orang yang mengakhiri hidupnya dengan jalan instan, hanya karena persoalan hidup yang membelit. Na’udzubillahi min dzalik.

Setiap diri kita pasti diuji. Tergantung dengan kadar iman dan titik lemah masing-masing. Jika orang itu titik lemahnya mengenai harta, maka Allah akan uji dengan kemiskinan atau bahkan dengan kekayaan yang mampu membuatnya lupa. Dan aku telah diuji dalam pernikahan ku sampai akhirnya kami memutuskan berpisah. Berat? Sungguh berat. Tak ada satu pun orang yang ingin menikah lalu ingin berpisah. Semuanya menghendaki kebahagiaan. Tapi, yang kami alami sungguh di luar dugaan dan kendali. Kami sudah mencoba bertahan dan berusaha, namun ternyata Allah berikan jalan lain dan semoga ini jalan yang terbaik bagi kami.

Hanya sebentar saja usia pernikahan kami, hanya 1 tahun saja. Tapi sekali lagi, ini tidaklah mudah. Waktu yang kami jalani pun tidaklah singkat, jika kami hitung hari per hari. Usaha dan doa sudah dilakukan dan ketetapan Allah yang terjadi demikian. Tak mampu kami hindari dan tak pernah terduga sama sekali. Ini semua harus diterima dengan hati seluas samudera,lapaang sekalii.. dengan meyakini ini adalah takdir Allah swt. Seburuk apapun yang terjadi, jika Allah berkata, “Kun fa ya kun”. Terjadi maka terjadilah.

Setiap perpisahan memang menyedihkan dan menyakitkan. Terlebih berpisah dengan orang yang kita cintai. Cinta tak selalu memiliki, ada pengorbanan dan pemberian tulus yang diberi. Namun tak ada yang dapat menolak apa yang Allah tetapkan. Maka ikhlaskan kejadian yang telah lalu. Kemudian tataplah ke depan, bahwa esok kan menanti.

Ada yang pernah berkata kepada ku, “Kebanyakan orang mengalami kegagalan. Dan kegagalan itu adalah awal dari kesuksesan. Saya mengucapkan ‘Selamat’ kepada mu karena kamu termasuk orang-orang kebanyakan.”
Iya, setiap orang pernah gagal. Tapi setelah itu dia akan menuai kesuksesan. Setiap orang pernah sedih, tapi akan ada bahagia yang menyapa. Semoga Allah memberikan kami kondisi yang lebih baik lagi.

Bukan bermaksud mengumbar kesedihan dalam tulisan ini, hanya ingin berbagi kisah kehidupan yang tak terlihat di televisi. Aku hanya ingin berbagi hikmah agar dapat diambil apa yang baik.

Dengan ini aku ucapkan, “SELAMAT TINGGAL KESEDIHAN!”

You’ll be in my heart (my lovely sisters)

You’ll be in my heart, form this day on. Now and forever more.. (Phil Collins)

Kurang lebih enam tahun kita telah bersama. Menjalin persaudaraan, merajut cinta dan kasih. Salah satu harta dunia adalah memiliki saudara-saudara sholeh, yang mampu mengingatkan kelalaian, yang mampu membangkitkan semangat, yang mampu memotivasi untuk beramal lebih baik. Sudah takdir Allah, bahwa kita akan bersama lalu kemudian akan berpisah. Karena tak ada pertemuan tanpa perpisahan. Pun sejatinya kita belum berpisah, hanya berpindah tempat amal.
Kala itu, SMA yang masih kekanakan.. sampai mungkin saat ini pun masih ada jiwa kekanakan itu (hehe..). Kala tawa dan gurauan menjadi penghias pertemuan. Dengan hanya sekedar senyum dan sapaan sudah cukup membahagiakan. Apalagi kala cerita mengalir begitu saja, dengan harapan akan adanya nasihat dari sahabat. Ketika semua peluh akan pudar hanya dalam beberapa jam pertemuan. Ah, begitu indahnya ya..
Ana uhibbukifillah, menjadi kata mendalam penuh arti. Kecintaan hanya karena Allah. Mungkin begitu pula yang dialami Rasulullah saw. dan para sahabatnya dalam persaudaraan mereka. Oleh karenanya Rasulullah saw bersabda,”kamu akan bersama orang yang kamu cintai di akhirat”. Artinya, ketika kita mencintai saudara yang sholeh, maka kita akan kembali bertemu nanti di akhirat, insya Allah surga tempatnya.
Perpisahan ini tak begitu berat sebenarnya, karena bagaimana pun juga hati ini akan tetap terpaut. Entah sampai kapan, mungkin ketika masing-masing dari kita menggendong anak atau bahkan cucunya. Perpisahan ini adalah sementara. Kita hanya butuh ladang baru untuk digarap, ladang dimana kita dapat tumbuh lebih dewasa dan mandiri.
Teman, yang aku rasakan selama ini adalah proses pendewasaan yang kita alami. Begitu cepat waktu berjalan, yang satu menikah dilanjutkan yang lain, bergulir begitu saja. Tentunya kita tak dapat memaksakan kehendak kita, akan dimana dan bersama siapa. Tapi, dimanapun kita berada semoga jati diri dan keteguhan itu tetap terus bersama.
Teman, di akhir penghujung tahun 2011 ini adalah tempaan untuk kita bersama. Semoga Allah memberi tempaan berikutnya yang lebih kuat agar kita pun lebih kuat. Semoga Allah mengganti apa-apa yang luput dari kita menjadi yang lebih baik yang tidak pernah kita duga. Banyak orang-orang sholeh di sekitar kita, maka sungguh tak menutup kemungkinan untuk bergabung.
Teman, mungkin kita sudah memulainya sejak dulu dimana kita memang dipersiapkan untuk terjuan bebas dengan bekalnya masing-masing. Kita sudah cukup kuat untuk mendarat dengan parasut masing-masing. Biarlah Allah saja yang mengatur segalanya. Sesungguhnya kita hanya berusaha dan berdoa, untuk ketetapan dan akhir hanyalah milik Allah swt.
Terakhir, aku berdoa untuk kalian. Semoga Allah selalu mencurahkan hidayah,Rahman dan Rahim Nya, melapangkan segala urusan, meneguhkan hati dan iman, serta jalan yang terbaik dan diridhoi-Nya. Terlalu banyak kenangan untuk diceritakan, lebih baik jika kita merekamnya masing-masing.
Kita pasti ketemu lagi kan… Keep contact ya and I love u all coz Allah..
Big Hug my sisters.. :)

25 years old on 25th November

25 tahun hanya bilangan usia, tak ada artinya jika tak ada makna dan manfaat di dalamnya. Apa yang sudah aku lakukan selama aku hidup? Banyak manfaat atau mudharat? Banyak kebaikan atau keburukan? Bagaimana dengan ibadah dan amal sholeh? Dan apakah aku sudah menapaki dengan kedewasaan atau tak berkembang?
Perjalanan hidup ku sungguh menakjubkan. Hal-hal yang tidak pernah aku duga terjadi begitu saja. Masuk SMA Negeri favorit di Depok, berkumpul dengan orang-orang sholeh menjadi batu pijakan ku hingga menjadi seperti saat ini. Kemudian memasuki dunia kampus di universitas negeri di Depok, tetap dengan penjagaan lingkungan yang baik dan sholeh. Aku merasa ada peningkatan pola pikir ketika bergabung di organisasi kemahasiswaan. Dan dengan cita-cita untuk lulus 4 tahun, aku berhasil mencapainya. Cukup sederhana memang, tapi tak cukup diceritakan secara detil. Betapa banyak orang-orang baik di sekelilingku, betapa aku merasakan penjagaan Allah melalui hamba-hambaNya. Tak terlupakan andil dari kedua orang tua ku yang selalu mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya, tak banyak menuntut namun tetap menjaga ku. Juga kedua saudara laki-laki ku yang walaupun kami sering beradu pendapat, tapi sejatinya kami saling menyayangi.
Indah, terasa indah melekat dalam ingatan. Bersyukur masa itu telah berlalu. Menuju usia 24 tahun, aku memulai lembaran hidup baru dengan jalinan pernikahan. Juga tantangan baru dalam pekerjaan. Dan masa ini adalah masa di mana kurva menanjak naik, banyak benturan dan cobaan yang menerpa. Sadarlah aku bahwa beginilah cara Allah swt mendidik hamba Nya agar dapat tumbuh dewasa dan naik derajatnya. Tak bisa aku pastikan, apakah aku berhasil melewati atau hanya dibumbui dengan keluhan tak terhingga. Memang pada usia ini, banyak orang menyebut dengan isitlah ‘galau’. Banyak masalah menimpa dan menuntut jalan keluar. Sejatinya yang aku rasakan adalah Allah menginginkan aku untuk bersabar menapaki jalan. Tidak gerasak gerusuk, focus dengan tujuan dan arah. Dengan tetap mempertaruhkan keistiqomahan, aku harus tetap bertahan dengan ibadah wajib dan dilengkapi dengan ibadah sunah favorit (sholat dhuha).
Menginjak pada usia 25 tahun, aku yakin jalan semakin menanjak dan berliku. Tentunya aku harus membawa bekal kesabaran dan syukur pada Allah. Aku harus bersabar dalam menapaki jalan seterjal apapun, dengan keyakinan bahwa ada sesuatu yang indah di ujung sana yang telah Allah siapkan. Juga aku harus tetap istiqomah, tidak salah jalan dan tidak lemah. Dan aku harus bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan selama ini, orang tua yang penyayang, kakak-adik yang menjaga ku, suami dan teman-teman yang menyayangi ku.
251111

Tempat mengadukan keluh kesah

Pada dasarnya manusia diciptakan dengan sifat yang suka berkeluh kesah. Terlebih dengan masalah yang hadir pada hidupnya, membuat keluh kesah semakin menjadi-jadi. Mulai dari mempertanyakan, “kenapa sih saya diberi ujian seperti ini?” sampai bahkan ada yang menyalahkan Tuhan atas ujian yang menimpanya. Na’udzubillahi min dzalik.
Dengan fitrah manusia yang suka berkeluh kesah, artinya butuh tempat untuk mengadukan semua keluh kesah itu. Namun bukan berarti kita bisa mengumbar masalah pada orang lain dengan maksud mengadu, kecuali pada orang terpercaya yang mampu memberi solusi dan membantu memecahkan masalah. Lalu siapakah sejatinya tempat mengadu itu? Yang bisa menyimpan rahasia dengan baik, Yang sangat senang mendengar dan Yang sangat senang dijadikan tempat mengadu. Dialah Allah SWT.

Ketika masalah bertubi-tubi menghampiri dan solusi tak kunjung datang, mungkin artinya Allah SWT menyukai agar kita selalu mengadu pada-Nya. Pengaduan itu berupa untaian doa diiringi buliran air mata, pertanda tidak ada kuasa melainkan milik Allah SWT. Sebagaimana yang dicontohkan oleh para Nabi dan para sahabat. Seperti Nabi Ya’qub berkata, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS.12:86).


Dikisahkan tentang da’wah Rasulullah SAW kepada penduduk Thaif. Betapa ujian berat menimpa Rasulullah SAW ketika da’wahnya ditolak, diusir dan beliau dilempari batu. Apakah Rasulullah berkeluh kesah dengan ujian itu? Rasulullah SAW mengadu pada Allah SWT dalam bentuk doa yang menyejukkan, beliau berdoa agar Allah SWT mengampuni penduduk Thaif dan memberikan keturunan yang baik dari penduduk itu. Padahal malaikat sudah menawarkan bahwa bisa saja penduduk Thaif diadzab dengan keras, namun begitu lembut hati Rasulullah SAW yang dengan keluh kesahnya beliau tetap berdoa dengan kebaikan.
Kita memang manusia biasa, bukan Nabi. Tentunya keluh kesah seorang manusia biasa sulit melampaui cara mengadu para Nabi dan salafusshalih. Tapi kita bisa belajar perlahan, betapa dibutuhkan kesabaran dalam setiap ujian yang dihadapai. Kesabaran tersebut diiringi dengan doa atau aduan kepada Allah SWT, karena masalah kita sungguh sangat kecil dan Allah Yang Maha Besar. Ketika datang sebuah masalah: “Hai masalah! Akan aku adukan kamu kepada Allah Yang Maha Besar!”. Ya, mengadu pada Allah dengan tujuan mengharapkan pertolongan dan petunjuk adalah suatu hal yang disukai oleh Nya. Dimana dari pengaduan itu, terlihat bahwa manusia begitu lemah dan tak kuasa. Sedangkan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

(131111)

Luruskan Niat, Rapatkan Barisan

Mungkin, kita pernah sangat berharap kepada Allah untuk memperoleh sesuatu, tapi pinta itu tak kunjung dikabulkan. Sebaliknya, mungkin kita sering dikaruniai Allah berbagai nikmat, tanpa pernah sedetakpun terbersit di hati kita. Hidup memang penuh misteri. Perjalanan dakwah, tak jauh berbeda. Siapa sangka, penderitaan dan tekanan luar biasa yang dialami para sahabat Mekkah, justru melahirkan generasi terbaik sepanjang masa. Pembunuhan Sumayyah oleh Abu Jahal dan keluarganya, adalah tiket surga yang pertama.
Karenanya, sudut pandang seorang muslim terhadap suatu masalah, harus dikembalikan secara proporsional sesuai tuntutan Al Qur’an dan Sunnah. Sebuah kekalahan, kesulitan, kegagalan, pada dasarnya adalah momentum yang akan mengembalikan kita pada jalan yang lebih diridhoi oleh Allah. Lebih dari itu, ujian atau musibah, akan lebih membuka berbagai kekurangan yang dimiliki. Dan dari sanalah kekalahan berubah menjadi momentum meraih kemenangan.
Setidaknya ada dua langkah yang paling penting dilakukan. Luruskan niat dan rapatkan barisan. Luruskan niat, memiliki dimensi peningkatan iman (iman amiiq) dan kejelasan serta penyatuan visi (wudhuhul fikrah). Semenara rapatkan barisan, adalah upaya membangun kekutan institusi dakwah melalui tiga hal, spesialisasi dan pembagian kerja (Attakhasshush wa tauzi’ul a’mal), membangun kekuatan jama’ah dakwah dengan rasa tsiqah timbal balik (Attandzimu ad-daqiq al-mabni ‘ala tsiqah), dan membangun ukhuwah yang kokoh (al-ukhuwah al-matinah).
Pilar pertama: Akar Iman yang Menghujam
Iman adalah sumber kekuatan. Ia merupakan penjaga sekaligus pemelihara seseorang dari sikap meremehkan dosa yang berbuntut kelemahan. Krisis iman merupakan akar dari segala krisis. Seorang mukmin yang hidup, akan merasakan bahwa kerinduannya akan konsumsi bathin jauh lebih besar ketimbang konsumsi makanan. Karena itu, seharusnya seorang mukmin memerlukan suplai ruhiyah jauh lebih besar dari suplai jasadiyah.
Hanya diri kita sendiri yang berperan agar dapat memelihara stabilitas dan kualitas iman. Caranya adalah dengan disiplin melakukan tilawatul Qur’an, taffakur, rutin membaca doa pagi dan petang, serta ibadah sunnah. Kontinuitas harian, meski sedikit, akan memuat stamina iman kita tetap kuat menghadapi berbagai gangguan.
Seorang mukmin tidak akan dapat menemukan kekuatan lain, melebihi iman yang menghujam di hati. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpaman kalimat yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” (QS. Ibrahim: 24-25).
Pilar kedua: Ketajaman Visi Perjuangan
Membangun kekuatan da’wah mutlak memerlukan prajurit yang memiliki visi perjuangan yang jelas. Sebab, pemahaman dan persepsi seseorang sangat berpengaruh pada sikapnya. Pemahaman terhadap visi perjuangan, adalah fondasi sebuah bangunan da’wah. Dua lainnya adalah niat dan amal. Fikrah tersebut akan memberikan aliran semangat yang tak pernah lemah bagi para juru da’wah.
Tanpa memiliki fikrah yang jelas, da’wah akan kehilangan bashirah, miskin ketajaman langkah, mudah terjebak oleh kondisi yang menipu, serta rawan fitnah. Selain memahami khittah da’wah, para da’i juga harus memahami dengan jelas rintangan dan halangan apa saja yang akan dihadapi dalam da’wah. Perjuangan da’wah mempunyai khasanah pengalaman berharga. Selain panjang, da’wah bukan jalan bertabur bunga dan intan berlian. Tapi hutan belantara yang penuh duri dan binatang buas. Seorang da’i juga harus memahami rambu-rambu atau manhaj da’wah.
Namun demikian, kelurusan visi da’wah juga harus terus diasah melalui interaksi yang lebih intens dengan komunitas da’wah. Informasi seputar langkah dan kebijakan da’wah harusnya diterima melalui alur dan sumber yang jelas. Sikap ini penting dijaga agar bangunan da’wah tidak hancur berantakan. Seorang penyair berkata, “Jika ada seribu pembangun, satu orang penghancur saja sudah cukup. Bagaimana dengan satu orang pembangun, bila dibelakangnya ada seribu penghancur?”
Pilar Ketiga: Spesialisasi dan Pembagian Tugas
Saat ini banyak terjadi kesenjangan antara disiplin ilmu seseorang dengan profesi yang digeluti. Untuk itu, spesialisasi keahlian harus segera dirintis. Spesialisasi tidak berarti harus dilakukan secara akademisi. Dua langkah yang harus dilakukan adalah, menentukan pilihan keahlian yang cocok agar usia tidak terbuang sia-sia. Kedua, meningkatkan keahlian tersebut dalam fase selanjutnya, fase multi keahlian (skill mik). Namun, keahlian profesional harus sinergi dengan da’wah.
Imam Ibnul Mubarak, membagi antara tugasnya di medan perang dan beribadah. Satu tahun ia naik haji, dan tahun berikutnya ia berjihad ke medan perang. Imam Hasan Al Banna adalah pendidik dan guru yang tak pernah absen dari tugas-tugasnya. Tapi tugas-tugas dakwahnya tak ada yang tercecer.
Spesialisasi profesi juga bertalian dengan pembagian tugas dakwah. Spesialisasi juga bermanfaat agar dakwah bisa diterima oleh berbagai kalangan. Setiap profesi dan spesialisasi tertentu, memerlukan da’i yang punya keahlian sama. Tentu dengan tetap menguasai pengetahuan dasar keislaman yang mutlak dimiliki.
Pilar keempat: Tsiqah Timbal Balik
Da’wah mesti dipikul secara bersama. Kebersamaan itu harus diwujudkan dalam kerja sama (amal jama’i) yang rapi. Dari sinilah kemudian, kebutuhan da’wah akan jama’ah yang solid sangat penting. Tekanan dan serangan dari luar jama’ah da’wah, betapapun dahsyatnya tak akan menimbulkan permasalahan berarti, manakala kondisi internal bangunan jama’ah da’wah telah kokoh.
Dalam struktur jama’ah da’wah tentu ada pemimpin (qa’id) dan ada yang dipimpin (jundi). Keduanya harus memiliki tsiqah yang sehat secara timbal balik. Bagi para anggota, tsiqahnya adalah ketenangan hati kepada pemimpin (tsiqah bil qiyadah). Sebaliknya seorang pemimpin juga harus memiliki rasa tsiqah kepada para anggotanya. Para pemimpin harus percaya terhadap keikhlasan, kapasitas, dan komitmen anggotanya.
Tsiqah yang timbal balik (tsiqah mutabadilah) yang akan memelihara kekuatan struktur da’wah karena dikendalikan oleh al-qais al-mautsuq bihi wa jundi al-muthi (pemimpin yang dipercaya dan anggotan yang taat).
Pilar Kelima: Membina Kemesraan Ukhuwwah
Kemesraan ukhuwwah dibangun atas tiga hal: saling kenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum) dan saling berbagi beban (takaful). Ta’aruf bermula dari pengenalan secara fisik, karakter, kadar keseriusan taqarrub kepada Allah, atau hal-hal lahiriah lainnya. Rasulullah saw bersabda, “Seorang mukmin itu makhluk yang cepat akrab, maka tidak ada kebaikan pada orang yang tidak cepat akrab dan tak bisa diakrabi.” (HR. Ahmad dan Thabrani). Ta’aruf yang baik akan meminimaslisir kekeringan dan keretakan hubungan sesama muslim. Bila wilayah ta’aruf sudah terbentang, akan tumbuh sikap tafahum. Sikap tafahum akan menjaga kesegaran jama’ah da’wah. Puncak dari segala amal ukhuwwah adalah itsar (mendahulukan sesama saudara).
Ukhuwwah Islamiyah yang benar akan panjang usia, bahkan hingga hari akhirat kelak. “Di sekitar Arsy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para nabi atau syuhada. Para nabi dan syuhada iri kepada mereka. Ketika ditanya para sahabat, Rasullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling kunjung karena Allah.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Tirmidzi).

Tarbawi Edisi 2, 20 Juli 1999

FILOSOFI BERJAMA’AH

(hasil nguprek2 file, smoga bermanfaat beberapa filosofi dalam berjama’ah. Cekidot!)

Falsafah sambungan kayu:

Secara struktural, hidup berjama’ah itu ibarat dua buah kayu yang hendak disambung. Agar bisa disatukan dengan kuat, maka kedua ujung kayu harus rela dipahat sedemikian rupa. Dari pahatan yang simetris itulah kemudian kedua ujung kayu yang sebelumnya berada pada posisi berhadapan, bisa berada dalam posisi sejajar. Lalu, penyambungan itu menjadikan salah satu kayu harus berada di atas, dan kayu yang lainnya di bawah. Bila kedua ujung kayu itu tidak bisa dipahat atau tidak bisa saling menerima posisinya, tentu kedua kayu itu tidak bisa disambung, atau kalau pun bisa ia tidak akan kuat. Tak jauh berbeda dengan hidup berjama’ah. Kebutuhan jama’ah kepada struktur yang kokoh dan baik, menjadikan orang-orang yang terlibat di dalamnya harus rela dengan beragam posisi yang telah ditetapkan. Intinya, ada yang harus di bawah menjadi anggota yang siap dipimpin dan memberikan ketaatan, ada juga yang harus di atas menjadi memimpin, yang siap menjaga amanah kepemimpinannya serta ketaatan anggotanya.

Falsafah air mengalir:

Visi dan misi sebuah jama’ah tak jauh berbeda dengan visi misi air. Air sudah punya tujuan yang jelas: mencari tempat yang lebih rendah. Segala cara akan ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut. Bila ada halangan, air itu akan mencari alternatif. Misalnya, memisahkan diri sementara untuk kemudian ketemu dan bersatu lagi. Begitu seterusnya. Bila ada halangan yang lebih besar. Air itu akan mengumpulkan kekuatan, barulah ia akan meninggi melampaui halangan tersebut. Pada saat itu, kekuatannya akan menjadi dahsyat. Dengan visi misi yang jelas, air menjalani segalanya dengan tenang. Bahkan, dalam ketenangannya pula, sering ia menaklukan dan melumpuhkan musuh-musuhnya. Bila tugas-tugasnya berakhir dan tujuannya telah tercapai, dan ia telah berada di tempat rendah, seperti di laut, misalnya, ia akan melakukan regenerasi. Karenanya, sebagian air yang menggenang tenang itu akan menguap menjadi awan, lalu muncul anak cucu generasi barunya yang lahir melalui hujan. Begitulah, hidup berjama’ah seharusnya pun demikian. Dengan visi misi yang jelas, ia seharusnya menjadi siklus panjang sebuah amal bersama. Bahkan tanpa kata akhir. Sampai akhirnya, hanya hari akhir yang harus mengakhiri siklus itu.

Falsafah pohon pisang:

Etos kerja berjama’ah bisa mengambil ibrah dari pohon pisang. Orientasi beramal, berkarya, dan memberi sunbangsih nyata adalah tabiat pohon pisang. Salah satu keunikan pohon pisang, bila ia belum berbuah, maka ia akan terus tumbuh dan berkembang sampai berbuah. Bahkan, kalau pohon itu ditebang, ia akan muncul lagi dan tumbuh terus sampai ia besar dan memberikan buah. Demikian seterusnya. Ia tak akan bosan untuk terus berusaha dan berkarya. Setelah berhasil memberikan prestasi dengan buahnya, pohon itu akan menjalani sisa hidupnya secara alami, dengan tetap menyediakan dirinya untuk dimanfaatkan sesuai dengan kemampuannya seiring dengan usianya yang kian renta. Ada daunnya, ada gedebongnya. Orang-orang yang ingin hidup berjama’ah harus lebih dulu berpikir apa yang bisa diiberikan untuk jama’ah, meskipun rintangan selalu mengitari. Jangan justru sebaliknya, selalu berpikir apa yang bisa dia dapatkan dari jama’ah.

Falsafah semut:

Kinerja dan pembagian tugas dalama jama’ah, tak ubahnya seperti kinerja komunitas semut. Mereka banyak memiliki keunikan. Ada semut-semut khusus yang tugasnya invetigasi, khususnya mencari makanan. Jumlah tim ini tidak banyak. Bila mendapatkan makanan, tim investigasi itu akan balik melapor dan tidak langsung membawa sendiri makanan itu. Barulah setelah itu, datanglah tim pengangkut dengan jumlah yang seimbang dengan makanan yang didapatkan. Lalu, mereka pun bergotong royong membawa makanan tersebut ke sarang. Hebatnya, semut itu mampu membawa beban jauh beberapa kali lipat dari badannya. Bila proses pengangkutan itu selesai, masih ada tim evaluasi. Tugasnya memeriksa kalau-kalau ada yang tertinggal.
Dalam berjama’ah, kinerja yang rapi dan beretos tinggi sangat dibutuhkan. Beban da’wah yang berat, selain membutuhkan pembagian tugas yang baik, juga membutuhkan kesiapan para junud untuk bekerja dan memikul beban lebih dari manusia biasa.

Falsafah roda berputar:

Dinamika berjama’ah, meski tak sama persis, bisa diibaratkan roda kendaraan. Roda sebuah kendaraan biasanya tersambung dengan roda gigi mesin. Gigi satu untuk medan khusus, gigi dua untuk medan tertentu, demikian juga gigi-gigi roda yang lain. Dalam iklim berjama’ah, dibutuhkan perputaran yang sehat, dengan mempertimbangkan beberapa hal, seperti kebutuhan untuk memperluas wilayah kerja, penempatan orang seusai keahlian, penggantian orang yang lebih pas, dan pertimbangan-pertimbangan lain. Seperti kisah diberhentikannya Khalid bin Walid sebagai panglima perang, demi mashlahat yang lebih besar. Dalam berjama’ah, pergantian dan penempatan harus tepat, seperti gigi-gigi mesin kendaraan. Namun, yang tak kalah penting adalah, para junud atau anggota harus siap menerima perubahan dan perputaran yang diperlukan.

Falsafah sambungan tali:

Dalam berjama’ah, ada posisi-posisi kunci yang sangat genting. Seperti dua tali yang disambung, maka, sebagian dari ujung tali tersebut harus terlipat dan terjepit. Bahkan, bila beban tarikan kedua tali kian berat, bagian yang terjepit tersebut kian tertekan. Dalam jama’ah diperlukan orang-orang yang rela mengambil peran-peran genting dan berisiko tinggi itu. Tentu tidak semua orang siap. Hanya orang–orang khusus, yang terbina secara khusus, yang siap memikul tugas-tugas khusus. Sebab, tugas khusus itu memerlukan pengorbanan khusus.
Di masa Rasulullah, peran seperti itu dicontohkan Abu Bakar yang menemani hijrah Rasulullah. Atau peran Hudzaifah yang menyusup ke pasukan kafir pada perang Ahzab, atau para sahabat yang menjadi tameng Rasulullah pada perang Uhud, saat Rasulullah terperosok ke lubang galian dan serangan bertubi-tubi datang. Contoh lain masih banyak. Ibarat ujung tali yang terikat tadi, mereka telah menjual diri kepada Allah untuk tugas-tugas berat itu.

Sumber:Tarbawi, edisi 5 Th.I 5 Januari 2000

Tambahan:
Falsafah Atom:

Dalam inti atom terdapat proton yang bermuatan positif dan neutron yang tidak bermuatan. Proton-proton itu saling tolak menolak sehingga bisa terpencar. Jadi, dibutuhkan neutron yang tugasnya untuk menstabilkan proton agar tetap berada dalam inti atom. Lalu terdapat elektron yang mengelilingi inti atom.
Ibaratkan para da’i adalah proton, yang pada hakikatnya memiliki banyak perbedaan; latar belakang, sifat dan karakter. Dalam perjalanan da’wah tak sedikit kerikil-kerikil yang ditemui yang bersumber dari da’i itu sendiri. Berawal dari perbedaan pendapat, perdebatan, dan akhirnya tidak sedikit yang berguguran atau berhenti di tengah jalan karena beberapa alasan. Na’udzubillah. Kejadian itu pasti terjadi, karena da’i adalah manusia yang mempunyai banyak kekurangan. Dengan adanya saudara, maka kekurangan kita bisa tertutupi dengan saling mengingatkan dan menasehati, juga dengan ditutupi oleh kelebihan saudara kita. Maka, bisa saja da’i sama tabiatnya seperti proton, yang Allah ciptakan dengan berbeda karakter. Jika proton saling tolak menolak karena mempuyai muatan yang sama, maka da’i mengalami saling tolak menolak karena beberapa perbedaan yang ada.
Dalam hidup berjama’ah ada fungsi penetral seperti neturon, yaitu ukhuwah. Faktor ukhuwah sangatlah penting dalam berjama’ah, ketika tumbuh rasa saling mencintai karena Allah, maka tak ada lagi konflik antara da’i itu sendiri. Bahkan sahabat Rasulullah begitu saling mencintai. Abu Bakar begitu mencintai Rasulullah saat menemaninya hijrah, ketika di dalam Gua Hira, ia rela kakinya digigit ular karena tidak ingin mengganggu Rasulullah yang sedang tidur di pangkuannya. Kecintaan antara sahabat juga dicontohkan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshor, ketika dipersaudarakan. Ukuhuwah menjadi pengikat hati para muslim sehingga jama’ah akan tegak dan kokoh.
Elektron yang mengelilingi inti atom adalah medan da’wah yang harus dihadapi. Lingkaran jama’ah layaknya lingkaran inti atom yang selalu bergerak. Dibutuhkan neutron yang banyak agar proton tidak lepas dan tidak terurai. Maka dalam kehidupan berjama’ah dibutuhkan ukhuwah yang kuat, tingkat terendah adalah husnudzon dan tingkat tertinggi adalah itsar.
Allahu a’lam.
Evi Fauziah
19 Juli 2008

Menu Masakan Bulan Ramadhan ala Evi Queen.. ;)

Ramadhan akan tibaa… segera siap2: bekal ruhiyah, jasadiyah, & fikriyah..
juga sebagai seorang istri, bekal menu makananan tak kalah penting. Bagaimana me-manage agar suami senang selama bulan Ramadhan, buka puasa & sahur berkah. Amiin, insya Allah..
Berikut ini Rencana Masakan 25 hari selama bulan Ramadhan, karena setelahnya mudik & pastinya ngga masak ;)

menu makan ramadhan
Oiya, dikarenakan keterbatasan Chef dalam memasak, jadi menunya yang gampang & praktis aja..
Semoga bermanfaat untuk para ibu lain..
Selamat mempersiapkan bulan Ramadhan :)

Jika air mata mampu menjawab pertanyaan

Air mata adalah sebuah luapan dari emosi, orang lebih banyak yang menangis saat sedih, tapi juga ada yang menangis saat bahagia.
Misterius. Air mata yang hanya sebuah kelenjar yang diproduksi oleh proses lakrimasi untuk membersihkan mata, namun menyimpan jawaban atas kegundahan dan perasaan.
Buliran air mata yang menetes bukan diperintahkan dengan sengaja, tapi itu terjadi hanya dengan otak berpikir akan suatu kejadian yang merespon emosi dan dengan sepersekian detik, deraslah air mata mengalir di pipi.
Air mata menetes begitu saja ketika membaca Al Qur’an, mentadaburinya dan merasakan begitu dalam dan luas nikmat Allah. Masya Allah..
Air mata menetes ketika mendapatkan sebuah masalah yang tak mampu diatas.
Air mata adalah bentuk atas kelemahan upaya manusia dan pada Allah kembali segala sesuatu.
Jika air mata mampu menjawab pertanyaan, aku akan terus menangis. Tapi ternyata air mata hanya menjadi pelepas kesesakan pikiran dan emosi.
Jika air mata mampu menjawab pertanyaan, aku ingin mengumpulkannya dalam sebuah wadah. Tapi ternyata air mata hanya mengalir hitungan detik, dan kemudian hilang.
Jika air mata mampu menjawab pertanyaan, aku ingin bertanya, “apakah setiap buliran mu yang menetes akan Allah hitung di akhirat?”